Home

Sabtu, 04 September 2010

Di mana Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?


Di mana Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?
(Adam Azano)*



“Umar Bakri Umar Bakri
Pegawai negeri
Umar Bakri Umar Bakri
Empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati”

            Kenapa kita harus percaya bumi itu berbentuk bola, Pelangi terbentuk karena pembiasan cahaya, dan lain sebagainya? Padahal kita belum pernah mengamati secara langsung, hanya dari buku. Jawaban yang didapatkan serinngkali tidak memuaskan, yakni “Di buku sudah tertulis begitu, jadi percaya saja.”
            Mungkin buat sebagian orang cerita di atas adalah cerita yang aneh. Untuk apa menanyakan sesuatu yang sudah pasti?. Tapi hal kecil inilah cikal bakal masalah yang buruk bagi sistem pendidikan di Indonesia, karena secara tak langsung guru tersebut mematikan hasrat berfikir kreatif, analisis dan kritis dari manusia karena hanya mengikuti sumber dari buku saja tanpa pengamatan. Di dalam pendidikan negeri kita pada akhirnya terciptalah mental robot dan pekerja yang hanya bisa mengetahui menggunakan suatu teori dari buku, tapi tak berbakat menciptakan inovasi baru.
            Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Pendidikan bermakna proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Definisi yang terdapat dalam Kamus tersebut hanya menjadi kata-kata belaka. Ketika peran pengajar hanya mentransfer ilmu saja pada muridnya. Inilah yang harus dirubah, yakni melatih muridnya menjadi dewasa, tidak hanya kecakapan di bidang keilmuan, tetapi juga mentalitas haus akan ilmu, dan melatih proses kedewasaan muridnya.
            Pemaparan selanjutnya mengenai bagaimana pendidikan Indonesia yang selama ini hanya membuat manusia menjadi penghapal rumus yang handal, menjadi manusia yang mempunyai kemampuan kreatif, kritis, dan haus akan ilmu pengetahuan dengan menitikberatkan pendidik sebagai peranan yang aktif, dan yang paling utama melatih mentalitas pengabdian yang jarang dimiliki guru sekarang.
            Memang banyak guru yang mengajarkan ilmunya, tetapi tidak banyak yang mampu melatih daya nalar, analisis, kritis, dan mempertahankan rasa ingin tahu muridnya. Saat kita masih anak-anak, kehidupan merupakan tempat bermain yang luar biasa menariknya, selalu membuat kita ingin tahu dan bertanya. Tetapi saat seorang anak bertanya terlalu banyak kepada orang dewasa, kebanyakan orang dewasa mendiamkannya atau malah menyuruh anak tersebut untuk jangan banyak bertanya, dan akhirnya  diberi kesempatan ke sekolah, dimana seharusnya dia mampu bertanya sepuasnya. Pada akhirnya guru menjadi harapan bagi seorang manusia untuk tetap mempertahankan rasa keingintahuan tersebut. ironisnya sedikit guru yang mau melatih muridnya menjadi manusia yang mencintai dan haus akan ilmu. Banyak guru lebih menerapkan model sosok yang hanya memberitahukan ilmu tanpa mengajak murid menjadi lebih kritis membahas permasalahan ilmu tersebut atau dengan kata lain bersifat satu arah, bukannya terjadi komunikasi dua arah. Belum lagi jika guru tersebut bersikap hierarkis yaitu jika muridnya yang ingin mengetahui sesuatu harus sang murid yang pergi kepada sang guru tersebut. Apa yang ingin dihasilkan dari guru yang kehilangan sikap ikhlas dalam mendidik?
            Ada sebuah komik Jepang yang menceritakan sosok guru yang berbeda berjudul GTO, di sana sang karakter utama yaitu Eikichi Onizuka, ditampilkan sebagai guru yang benar-benar menjadi sahabat muridnya. Kemampuan Onizuka dalam pendidikan akademis terbilang kurang, tetapi dia mampu memberikan pengajaran yang lebih berharga yaitu menjadi sosok guru yang menyayangi anak muridnya, serta menjadikan sekolah dan pendidikan adalah sesuatu yang menyenangkan, sehingga tanpa disuruhpun murid-muridnya dengan senang hati pergi kesekolah. Berbeda dengan kebiasaan kita dimana sekolah hanya menjadi kewajiban saja.
            Mungkin sudah hilang jiwa Umar Bakrie yang tetap mengabdi walaupun muridnya sudah banyak yang menjadi menteri dan professor, tetapi sang guru tetap setia dengan sepedanya untuk mengajar murid- muridnya. Memang bisa dikatakan miris melihat bagaimana kebanyakan guru melakukan cara pengabdiannya, meski tak sedikit juga yang mengkomersialisasikan ilmu yang dimilikinya. Padahal menjadi guru adalah suatu pengabdian.
Pada akhirnya guru adalah sosok penting tentang bagaimana kelangsungan pendidikan negeri ini. Lalu bagaimana seharusnya citra guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa itu benar-benar dihayati sebagai bentuk pengabdian, dan yang paling utama bagi negeri ini adalah bagaimana seorang guru mampu mengajar dan belajar dari muridnya, seperti perkataan R. Verdi “Good teachers are those who know how little they know. Bad teachers are those who think they know more than they don't know.”

*Penulis adalah mahasiswa Filsafat angkatan 09

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik

-Humas Media KOMAFIL FIB UI-