Di mana Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?
(Adam Azano)*
“Umar
Bakri Umar Bakri
Pegawai negeri
Umar Bakri Umar Bakri
Empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati”
Pegawai negeri
Umar Bakri Umar Bakri
Empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati”
Kenapa
kita harus percaya bumi
itu berbentuk bola, Pelangi terbentuk karena pembiasan cahaya, dan lain
sebagainya?
Padahal kita belum
pernah mengamati secara langsung,
hanya dari buku. Jawaban
yang didapatkan
serinngkali tidak
memuaskan, yakni
“Di buku sudah tertulis begitu, jadi percaya saja.”
Mungkin buat sebagian orang cerita di atas adalah cerita
yang aneh. Untuk apa menanyakan sesuatu yang sudah pasti?. Tapi hal kecil inilah
cikal bakal masalah yang buruk bagi sistem pendidikan di Indonesia, karena secara tak
langsung guru tersebut mematikan hasrat berfikir kreatif, analisis dan kritis
dari manusia karena hanya mengikuti sumber dari buku saja tanpa pengamatan. Di dalam pendidikan negeri
kita pada akhirnya terciptalah mental robot dan pekerja yang hanya bisa mengetahui
menggunakan suatu teori dari buku, tapi tak berbakat menciptakan inovasi baru.
Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Pendidikan bermakna proses pengubahan sikap dan tata
laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui
upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.
Definisi yang terdapat
dalam Kamus tersebut hanya menjadi kata-kata belaka. Ketika peran pengajar
hanya mentransfer ilmu saja pada muridnya. Inilah yang harus dirubah, yakni melatih muridnya
menjadi dewasa, tidak hanya kecakapan di bidang keilmuan, tetapi juga
mentalitas haus akan ilmu, dan melatih proses kedewasaan muridnya.
Pemaparan selanjutnya mengenai
bagaimana pendidikan Indonesia yang selama ini hanya membuat manusia menjadi
penghapal rumus yang handal, menjadi manusia yang mempunyai kemampuan kreatif, kritis, dan haus akan ilmu
pengetahuan dengan menitikberatkan pendidik sebagai peranan yang aktif,
dan yang paling utama melatih mentalitas pengabdian yang jarang dimiliki guru
sekarang.
Memang banyak guru yang mengajarkan
ilmunya, tetapi tidak banyak
yang mampu melatih daya nalar, analisis, kritis, dan mempertahankan rasa ingin
tahu muridnya. Saat
kita masih anak-anak,
kehidupan merupakan tempat bermain yang luar biasa menariknya, selalu membuat
kita ingin tahu dan bertanya. Tetapi saat seorang anak bertanya terlalu banyak
kepada orang dewasa,
kebanyakan orang dewasa mendiamkannya atau malah menyuruh anak tersebut untuk
jangan banyak bertanya, dan akhirnya
diberi kesempatan ke sekolah, dimana seharusnya dia mampu bertanya sepuasnya.
Pada akhirnya guru menjadi harapan bagi seorang
manusia untuk tetap mempertahankan
rasa keingintahuan tersebut. ironisnya sedikit
guru yang mau melatih muridnya menjadi manusia yang mencintai dan haus akan
ilmu. Banyak guru lebih menerapkan model sosok yang hanya memberitahukan ilmu
tanpa mengajak murid menjadi lebih kritis membahas permasalahan ilmu tersebut
atau dengan kata lain bersifat satu arah, bukannya terjadi komunikasi dua arah. Belum lagi jika guru tersebut
bersikap hierarkis yaitu jika muridnya yang ingin mengetahui sesuatu harus sang
murid yang pergi kepada sang guru tersebut. Apa yang ingin dihasilkan dari guru
yang kehilangan sikap ikhlas dalam mendidik?
Ada sebuah komik Jepang yang menceritakan
sosok guru yang berbeda berjudul GTO, di sana sang karakter utama yaitu Eikichi
Onizuka, ditampilkan sebagai guru yang benar-benar menjadi sahabat
muridnya. Kemampuan Onizuka dalam
pendidikan akademis terbilang kurang,
tetapi dia mampu memberikan pengajaran yang lebih berharga yaitu menjadi sosok
guru yang menyayangi anak muridnya, serta
menjadikan sekolah dan pendidikan adalah sesuatu yang menyenangkan, sehingga
tanpa disuruhpun murid-muridnya
dengan senang hati pergi kesekolah. Berbeda
dengan kebiasaan kita dimana sekolah hanya menjadi kewajiban saja.
Mungkin sudah hilang jiwa Umar Bakrie
yang tetap mengabdi walaupun muridnya sudah banyak yang menjadi menteri dan professor,
tetapi sang guru tetap setia dengan sepedanya untuk mengajar murid- muridnya. Memang bisa
dikatakan miris melihat bagaimana kebanyakan guru melakukan cara pengabdiannya, meski tak sedikit juga yang mengkomersialisasikan
ilmu yang dimilikinya. Padahal
menjadi guru adalah suatu pengabdian.
Pada
akhirnya guru adalah sosok
penting tentang bagaimana kelangsungan pendidikan negeri ini. Lalu bagaimana
seharusnya citra guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa itu benar-benar dihayati sebagai
bentuk pengabdian, dan yang paling utama bagi negeri ini adalah bagaimana
seorang guru mampu mengajar dan belajar dari muridnya, seperti perkataan R. Verdi “Good
teachers are those who know how little they know. Bad teachers are those who
think they know more than they don't know.”
*Penulis adalah mahasiswa Filsafat angkatan 09


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik
-Humas Media KOMAFIL FIB UI-