Home

Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 September 2010

Profil: Embun Kenyowati


Profil Embun Kenyowati
 A             : Tanggapan mengenai Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi yang    dewasa ini semakin mengalami perkembangan, serta kaitannya dengan keberadaan manusia itu sendiri.
EK           : Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi tentu saja diperlukan demi kemajuan peradaban manusia. Dalam Ilmu Pengetahuan sebenarnya masih bisa ditemukan kemungkinan/possibility di dalamnya. Demikian juga dengan Tekhnologi yang terus menerus berkembang. Pada dasarnya semua hal yang ada di dunia ini tentu memiliki 2 sisi (baik dan buruk, benar dan salah), dan di sinilah peranan manusia untuk memaknai hal tersebut. Sisi positif dan negatif tentu tidak dapat dapat dihilangkan begitu saja, begitupun juga dengan yang terjadi pada IPTEK.Contonya efek negatif IPTEK terhadap alam, yaitu berupa pengrusakkan alam yang tidak dapat terelakkan lagi. Akan tetapi hal tersebut kembali lagi pada cara manusia memandang fenomena tersebut.
A             : Tanggapan mengenai Paradigma pendidikan yang seringkali dikaitkan dengan persekolahan atau nilai (grade) dan ranking?
EK           : Ada sebuah istilah mengenai pendidikan, yakni ‘Long life education’. Menunjukkan bahwa ada hal lain di dalam pendidikan yang tidak hanya sebatas persekolahan atau nilai grade semata. Bentuk-bentuk formalitas seperti itu tidak dapat dipungkiri keberadaannya, akan tetapi jangan sampai melunturkan nilai-nilai (values) yang juga berada dibalik itu. Pembelajaran mengenai kehidupan itu sendiri juga tentunya berpengaruh untuk dapat meningkatkan kehidupan yang lebih baik.
A             : Tokoh yang inspiratif untuk Ibu?
EK           : Sebenarnya tidak ada secara khusus yang menginspirasi, tetapi 2 tokoh ini memiliki pandangan menarik, menurut saya. Pertama, Nietszche dengan pandangannya mengenai dualitas karakter Appolinian dan Dionysian dalam seni. Nietzsche memberi tempat bagi perbedaan yang paling berlawanan sekalipun. Semua perbedaan itu pada dasarnya bisa diterima dengan mencoba untuk memberikan ruang bagi perbedaan-perbedaan tersebut.  Kedua, Terry Eagleton (Literature and Cultural Studies): Seperti yang dikemukakan dalam beberapa bukunya, yakni “Illusion of Posmodernisme’ ataupun ‘After Theory’. Saya suka pada caranya bercerita di dalam buku-bukunya. Tentu saja karena semangat pembelaan pada yang tertindas dengan pendekatan marxisnya.
A             : Bagaimana awal ketertarikan Ibu terhadap Seni?
EK           : Hmm... semuanya diawali ketika saya menginjak usia 12 tahun dan sedang menempuh pendidikan formal sekolah dasar dan pendidikan informal, yakni Pesantren privat. Ketika itu saya merasa ironi sekali saat menemukan sebuah keadaan bahwa orang yang mengajari kebaikan itu, ternyata justru ada yang tidak menjalani apa yang diajarkannya. Inilah yang akhirnya menyebabkan saya mulai memiliki ketertarikan lain di dunia sastra dan mulai membaca terjemahan karya Anton Chekov, dalam majalah berbahasa Jawa ‘Panyebar Semangat (PS)’. Semenjak itu ketertarikan saya di dunia sastra mulai merambah ke dunia puisi, dan kemudian menginjak ke dunia seni.
Seni itu setara dengan bidang-bidang lainnya,, seperti Ilmu Pengetahuan,  tergantung dari bagaimana manusia yang menggelutinya. Kalaupun ada pandangan bahwa Seni itu dipandang sebelah mata, seharusnya ditanamkan terlebih dahulu bahwa apapun ilmunya, tergantung manusianya bukan dari jenis ilmu yang dipelajari.                   
A             : Mahasiswa Filsafat angkatan 2010 saat ini berjumlah 40 orang. Mengenai banyaknya anggapan yang berkembang di luar sana tentang ilmu filsafat dan tidak sedikit diantaranya mengaitkan dengan Atheisme. Tanggapan Ibu mengenai hal tersebut?
EK           : Sebenarnya itu semua tergantung problem yang dialami. Filsafat itu mengajak manusia untuk bisa berpikir secara kritis, rasional, sekaligus juga menata pikiran agar jelas pemilahannya. Beragama urusannya dengan Tuhan, memang ada ritual serta faktor budaya di dalamnya. Pada akhirnya pengalaman kita sendiri yang menentukan terhadap kebertuhananmu tersebut.
Sebaiknya memang tidak serta merta menyimpulkan mengenai Filsafat yang identik dengan atheis. Ketika mengatakan bahwa berfilsafat mengarah pada atheis, itu juga seharusnya setara dengan ungkapan bahwa filsafat akan membawa kita ke arah yang sangat religius. Itu baru cara berpikir yang adil atau setara.
Contoh: kalau semua ini diciptakan Tuhan dan orang berpikir bahwa Tuhan itu ada yang menciptakan, siapa yang menciptakan yang menciptakan Tuhan? Ini akan membawa kepada cara berpikir Infinite Regression. Dalam Filsafat, harus ada titik awal untuk berpikir dan itu adalah sebuah pengandaian. Matematika saja yang terlihat pasti, itu banyak pengandaiannya bukan?
A             : Pesan kesan setelah mendapatkan award sebagai dosen wanita inspirasional?
EK           : Saya tidak tahu apa yang menjadikan saya mendapat penghargaan sebagai dosen inspirasional. Perkiraan saya waktu itu adalah:
Pertama: Mungkin karena saya adalah cancer survivor. 5 tahun yang lalu saya didiagnosis kanker nasofaring dan rajin berobat ke dokter, masih bisa mendapat gelar Doktor setelah sakit. Mungkin hal tersebut menjadi motivasi bagi siapapun atau untuk para penderita bahwa sakit kanker dapat disembuhkan tanpa meninggalkan kegiatan sehari-hari. Kedua: Mungkin karena saya termasuk pengusung pluralisme (lewat pendidikan dan seni). Ketiga: Mungkin karena saya mengangkat seni. Disertasi saya mengutarakan bahwa melalui cara melihat yg berbeda akan menimbulkan cara pandang berbeda. Perbedaan-perbedaan itu bisa menghargai sesuatu karena adanya perbedaan sudut pandang. Intinya, bahwa berangkat dari seni (seni avant garde yang notabene sering tidak dimengerti oleh orang banyak), tapi dengan cara melihat visual berbeda, diharapkan kita bisa melihat sudut pandang yang berbeda juga.
A             : Pluralisme yang diusung itu seperti apa? Apa lewat sebuah organisasi atau institusi tertentu?
EK           : Oh, Bukan. Pluralisme yang saya usung itu lewat pendidikan dan seni. Pluralisme dalam pendidikan, yakni dengan mengungkapkan bahwa pendidikan itu bukan konsep untuk orang baik-baik saja. Saya Pernah mengajar anak korban narkotika, jadi kalau cuma yang baik-baik saja semua orang bisa, lantas bagaimana dengan yang bermasalah?. Itulah yang membuat saya mengutarakan bahwa pendidikan itu bisa menerima semuanya, bukan hanya yang baik-baik saja (yang normal)
*Embun Kenyowati Ekosiswi dilahirkan di Bojonegoro, 4 Juli 1956, studi pada jurusan Sastra Inggris IKIP Surabaya. Kemudian melanjutkan studinya di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Filsafat, dan memperoleh gelar sarjana dengan skripsi berjudul: Pemikiran Susanne K. Langer tentang seni sebagai simbol Presentasional. Gelar Magister Humaniora pun berhasil ditempuh pada tahun 1998 dengan thesis berjudul: Subyektifitas dalam Seni pada Pemikiran Kant, Hegel dan Nietzsche. Gelar Doktor pun akhirnya diraih oleh penulis buku kumpulan puisi ‘Episode Hitam’ ini pada 1978. Saat ini beliau aktif mengajar  Filsafat di Universitas Indonesia, khususnya dengan peminatan di bidang Estetika dan Filsafat Seni
*Reporter: Andri Septian. Annisa


*Fotografer: Annas A. Azzis
 ROBOT-ROBOT
 Anak-anak muda itu kini telah menjadi robot-robot
Diprogram oleh para orang tua, penguasa dan masyarakatnya
Jangan berkata itulah arah jaman kita
Kalau kita bisa bicara tapi tak berbuat apa-apa
Dan ketika robot-robot itu kelapara
Program pencurian, pemalakan dan penjarahan yang bekerja
Dan kita tak siap dengan program penanganannya
2 April 1999
-Embun Kenyowati E.-
(Diambil dari Buku Kumpulan Puisi Ilusi dan Ilustrasi, karya Alois A. Nugroho dan Embun Kenyowati)