(M. Dian Hikmawan)*
Kata “pendidikan” telah demikian jauh dari makna awalnya untuk
mencerdaskan kehidupan manusia atau proses memanusiakan manusia yang
diselenggarakan melalui proses pendidikan. Pergeseran makna yang terjadi pada kata “pendidikan” ini
melampaui bentuknya yang verbal dengan pelbagai cara dan di dalamnya tercakup
hal-hal lain
dalam dunia lisan bukan bahasa dan ini bisa menjadi semainon[1].
Hal ini tak lain disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang terjadi dalam
perkembangan pendidikan itu sendiri sehingga dapat merubah makna pendidikan.
Pendidikan yang terjadi sekarang tak lebih dari pemenuhan atas produk-produk kaum kapitalis
dimana seseorang dipersiapkan demi memenuhi kepentingan mereka para kaum
kapitalis. Salah satu dari perubahan makna tersebut terjadi dengan adanya
komersialisasi pendidikan, pendidikan yang seharusnya menjadi cara atau proses
mencerdaskan atau memanusiakan manusia berubah menjadi pemenuhan kebutuhan
industrialisasi-industrialisasi yang tak lain produk dari para kaum kapitalis.
Komersialisasi dan industrialisasi
pendidikan membuat manusia tak berfikir jauh lagi mengenai apa makna yang
sebenarnya dari pendidikan dan hanya membuat pergesaran makna dari kata
pendidikan. Saat ini orang-orang lebih berfikir bagaimana caranya mengenyam pendidikan dengan
memilih apa yang sedang dibutuhkan dalam dunia industri sekarang. Contohnya
saja realitas ini terdapat pada banyak calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikannya ke
Universitas. Mereka berbondong-bondong akan memilih jurusan-jurusan tertentu yang sedang dibutuhkan oleh dunia
industrialisasi saat ini tanpa berfikir apa sebenarnya yang ingin mereka
pelajari dan dapatkan dari pendidikan tersebut. Ketergantungan-ketergantungan pada
situasi (depend on condition) ini
membuat seseorang semakin jauh dari apa yang mereka ingin dapatkan dan harapkan
terhadap pendidikan itu sendiri. Ketergantungan ini membuat mereka yang
memiliki kemampuan lebih dalam di bidang akademik mau tak mau berubah menjadi
budak-budak
dari kaum kapitalis demi memenuhi kebutuhan industialisasi yang ada, dan hal
ini semakin menguatkan bahwa pendidikan sekarang tak lebih dari budak kapitalisme
(education is slave of capitalism).
Realitas seperti inilah yang terjadi
sekarang di bangsa ini, pendidikan budak dari kapitalisme (education is slave of capitalism) menjadikan hasil yang didapatkan
dari proses pendidikan pun tak lebih dari mereka-mereka yang memiliki moral budak (slave morality) seperti apa yang sering di
dengung-dengungkan
oleh Nietzsche.
www.matanews.com
[1] Bahasa yang mengartikulasikan dirinya sendiri dalam suatu tata cara yang tidak verbal
*Penulis adalah mahasiswa
Filsafat Universitas Indonesia Angkatan 2009


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik
-Humas Media KOMAFIL FIB UI-