Musafir kehidupan : Sebuah pendidikan
mencari makna hidup dalam kekelaman.
Oleh: Richard
Losando*
Ini adalah sebuah cerita mengenai perjalanan
memperoleh makna kehidupan. Ada seorang manusia yang terlahir dan tumbuh besar
dalam kemewahan. Hidup bahagia dan tak pernah melihat dan merasakan
kesengsaraan hidup. telah berkeluarga, ketika anaknya lahir dia bertanya, "anak ini berasal dari mana? apakah
ada kehidupan sebelum kehidupan?" dia berpikir namun tak berhasil
menemukannya.
Namun tak bisa dipungkiri hidup itu memang misteri,
keluarganya dan kebahagiaannya lenyap. Keluarga meninggal karena kecelakaan dan
hartanya habis terbakar. lantas apa yang tersisa? hanya sebuah pertanyaan "mengapa hidupku begini?" dan
dia berusaha menabahkan dirinya.
"apakah ada kehidupan setelah kematian?"
Inilah awal dari perjalanan panjang mencari makna
hidup. Pencarian kepuasan tertinggi atas misteri kehidupan. menjadi musafir
menjadi pilihan logis untuk menjawab
"kedua pertanyaan" yang tersimpan dan bergulat atas pencarian
jawaban.
Dia memutuskan bertanya kepada suatu ahli agama, “apakah ada kehidupan sebelum
kehidupan?". Sang ahli agama menjawab, "Tuhan menciptakan manusia, manusia berasal dari-Nya, jadi
kehidupan sebelum kehidupan hanya ada pada Tuhan”. Dia merasa tak puas
dengan jawaban tersebut dan belum sempat dia menanyakan pertanyaan kedua kepada
ahli agama, lalu ia pergi dan kembali mencari jawaban ketempat lain.
Lalu bertemulah dia kepada seorang ahli spiritual, dan
menanyakan kembali pertanyaan pertama,
"apakah ada kehidupan sebelum kehidupan guru?" lalu sang ahli
spiritual menjawab "apakah engkau
sekarang merasa hidup?". “Saya
rasa sekarang ini saya hidup”. kata ahli spiritual "saat ini saya tidak tahu apakah saya menjalani kematian atau
bergulat dalam kehidupan, jadi saya tidak bisa menjawab pertanyaanmu".
Lalu manusia ini pergi kembali mencari jawaban.
Sampailah kepada seorang ahli filsafat. Ahli makna
hidup yang senantiasa merenungkan kehidupan. "apakah ada kehidupan sebelum kehidupan?" dan "apakah ada kehidupan setelah
kematian?". Lalu sang ahli filsafat menjawab, "jika engkau mampu menghitung jumlah rambut-mu dan mengetahui
jumlah pasir dipantai, engkau akan menemukan jawaban atas pertanyaanmu". Lalu
dia bingung dan menjawab, "saya rasa
saya tak akan bisa menghitung jumlah rambutku dan mengetahui secara pasti
jumlah pasir di pantai". Jawab sang ahli filsafat, "artinya anda telah menemukan jawaban
atas pertanyaan anda sendiri". Dia
tak mengerti atas perkataan ahli filsafat tadi.
Ia pun meneruskan perjalanannya demi mencapai sebuah
pemaknaan hidup yang tidak terjawab. Ia mendalami filsafat untuk terus mencari
kebijaksanaan serta mencari jawaban yang tidak pasti akan segala ketidakpastian
di muka bumi ini. Ia kembali meragukan segala hal dalam proses pencarian,
begitu juga filsafat.
*Penulis adalah mahasiswa
Filsafat angkatan 07

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik
-Humas Media KOMAFIL FIB UI-