Home

Sabtu, 04 September 2010

Pendidikan : Investasi dan/atau Humanisasi


Pendidikan : Investasi dan/atau Humanisasi
Oleh: Dona Niagara Dinata*

             Mayoritas manusia Indonesia, khususnya kalangan akademisi akan mengatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses atau hal yang penting, dan kata pendidikan di sini merujuk pada pengertian pendidikan dalam arti sempit, yaitu dunia persekolahan. Semua orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik, apa pun caranya. Sebagian besar orang tua dan bahkan pelaku akademis itu sendiri bisa melakukan apa pun untuk mewujudkan keinginannya dalam mengenyam pendidikan yang terbaik. Pendidikan dipandang sebagai salah satu jalan investasi yang paling menentukan kesuksesan seseorang dalam menjalani kehidupan, bahkan mitos dalam dunia akademis bahwa pendidikan (persekolahan) adalah penentu masa depan menjadi semakin kuat. Pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah apa yang menjadi tujuan dari menjalani pendidikan tersebut ?
            Pendidikan telah mengalami pereduksian pemaknaan. Pendidikan (baca : persekolahan) telah menjadi sebuah ladang emas bagi individu yang ingin mendapatkan apa yang mereka anggap sebagai pendidikan, baik dari sisi penyelenggara maupun sebagai peserta didik dan keluarganya. Terjadi pereduksian pemaknaan yang sangat memprihatinkan di sini. Pendidikan dianggap sebagai jalan untuk menuju masa depan yang diiming-imingi dengan kejayaan dalam artian kelimpahan pada bentuk materi. Pendidikan dianggap sebagai sebagai salah satu jalan pembebasan dari keterbelakangan, kemampuan secara finansial ataupun sebagai sarana untuk mempertahankan kekuatan finansial keluarga. Tidak bisa dipungkiri bahwa materi finansial memang hal yang penting terutama dalam mengukur kesejahteraan manusia, namun pemahaman yang melulu dan berorientasi hanya pada titik fokus itu telah men-dehumanisasi manusia. Dan dehumanisasi itu telah mengakar sebagai mitos yang dipercaya sebagian besar kalangan akademisi sebagai tujuan yang harus dicapai.
            Pertanyaan seputar, “kuliah jurusan apa?”, yang kemudian dilanjutkan dengan,“setelah lulus prospek kerjanya di mana?“, adalah pertanyaan yang menggambarkan bagaimana paradigma masyarakat kita dalam menilai pendidikan. Pendidikan hanya dipandang dari segi kebermanfaatan untuk mendapatkan status ekonomi yang lebih layak. Keberhasilan orang menjalani pendidikan adalah profesi apa yang bisa didapat dan seberapa besar bayaran yang didapat dari menjalani profesi itu. Berpikir seperti itu memang tidak bisa disalahkan namun paradigma yang terbangun dari konsep berpikir seperti itulah yang membuat pendidikan menjadi tereduksi ke dalam sebuah proses yang cacat, pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia menjadi tergeser kebelakang dan tertutupi oleh tujuan-tujuan yang lain, dan dominan mengarah kepada tujuan pragmatis.
            Tujuan pendidikan telah bergeser menjadi investasi dalam bidang ekonomi sehingga pendidikan tidak lagi menjadi tempat untuk mengasah kekritisan rasio, tetapi telah ditumpulkan oleh tujuan pragmatis tersebut. Pendidikan yang semestinya untuk meningkatkan pemahaman manusia dan mengasah kepekaannya berubah menjadi pabrik pencipta manusia mekanistis. Manusia yang dianggap memiliki rasio dan akal tidak lebih menjadi manusia yang menerima dan menerapkan saja nilai-nilai yang dianggap benar tanpa bisa memperhatikan nilai itu sendiri, karena dari pendidikan yang dijalani hanya sebagai sebuah jalan dan harus dilalui sebagai prosedur yang wajar dan benar, niat untuk mengkritisi nilai-nilai dan proses pendidikan yang dijalani, pendidikan yang mendidik atau malah merobotisasi, telah berkurang atau malah telah menghilang dari sebagian besar peserta didik. Pendidik menjadi Tuhan di dalam dunia persekolahan, dia yang menentukan apa yang baik dan buruk, dan peserta didik sebagai mesin penerima dan berpikir sebatas kerangka yang telah diberikan. Lantas di mana letak pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia? Manusia kemudian hanya menjadi mesin penerima. Hal ini mungkin terjadi karena telah tidak disadari bahwa tujuan pendidikan telah bergeser, yaitu tujuan pragmatis secara finansial. Humanisasi melalui pendidikan telah ditumpulkan dengan tujuan di luar humanisasi manusia itu sendiri.

*Penulis adalah mahasiswa Filsafat Angkatan 2008
*Juara 1 Debat Indonesia OIM FIB UI 2010, Filsafat Tim A
Sumber gambar http://pendidikan-myschool.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik

-Humas Media KOMAFIL FIB UI-