Oleh: Dona Niagara
Dinata*
Mayoritas manusia Indonesia, khususnya
kalangan akademisi akan mengatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses atau
hal yang penting, dan kata pendidikan di sini merujuk pada pengertian
pendidikan dalam arti sempit, yaitu dunia
persekolahan. Semua orang berlomba-lomba
untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik, apa pun caranya. Sebagian besar
orang tua dan bahkan pelaku akademis itu sendiri bisa melakukan apa pun untuk
mewujudkan keinginannya dalam mengenyam
pendidikan yang terbaik. Pendidikan dipandang sebagai salah satu jalan
investasi yang paling menentukan kesuksesan seseorang dalam menjalani
kehidupan, bahkan mitos dalam dunia akademis bahwa pendidikan (persekolahan)
adalah penentu masa depan menjadi semakin kuat. Pertanyaan penting yang perlu
dijawab adalah apa yang menjadi tujuan dari menjalani pendidikan tersebut ?
Pendidikan telah mengalami pereduksian
pemaknaan. Pendidikan (baca : persekolahan) telah menjadi sebuah ladang emas
bagi individu yang ingin mendapatkan apa yang mereka anggap sebagai pendidikan,
baik dari sisi penyelenggara maupun sebagai peserta didik dan keluarganya.
Terjadi pereduksian pemaknaan yang sangat memprihatinkan di sini.
Pendidikan dianggap sebagai jalan untuk menuju
masa depan yang diiming-imingi dengan kejayaan dalam artian
kelimpahan pada bentuk materi. Pendidikan dianggap
sebagai sebagai salah satu jalan pembebasan dari keterbelakangan,
kemampuan secara finansial ataupun sebagai sarana untuk
mempertahankan kekuatan finansial keluarga. Tidak bisa dipungkiri bahwa materi
finansial memang hal yang penting terutama dalam mengukur kesejahteraan
manusia, namun pemahaman yang melulu dan berorientasi hanya pada titik fokus
itu telah men-dehumanisasi manusia. Dan dehumanisasi itu telah mengakar sebagai
mitos yang dipercaya sebagian besar kalangan akademisi sebagai tujuan yang
harus dicapai.
Pertanyaan seputar, “kuliah jurusan apa?”, yang kemudian dilanjutkan dengan,“setelah lulus prospek kerjanya di mana?“,
adalah pertanyaan yang menggambarkan bagaimana paradigma masyarakat kita dalam
menilai pendidikan. Pendidikan hanya dipandang dari segi kebermanfaatan untuk
mendapatkan status ekonomi yang lebih layak. Keberhasilan orang menjalani
pendidikan adalah profesi apa yang bisa didapat dan seberapa besar bayaran yang
didapat dari menjalani profesi itu. Berpikir seperti itu memang tidak bisa
disalahkan namun paradigma yang terbangun dari konsep berpikir seperti itulah
yang membuat pendidikan menjadi tereduksi
ke dalam sebuah proses yang cacat,
pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia menjadi tergeser kebelakang
dan tertutupi oleh tujuan-tujuan
yang lain, dan dominan mengarah kepada tujuan
pragmatis.
Tujuan pendidikan telah bergeser
menjadi investasi dalam bidang ekonomi sehingga pendidikan tidak lagi menjadi
tempat untuk mengasah kekritisan rasio, tetapi telah ditumpulkan oleh tujuan
pragmatis tersebut. Pendidikan yang semestinya untuk meningkatkan pemahaman
manusia dan mengasah kepekaannya berubah menjadi pabrik pencipta manusia
mekanistis.
Manusia yang dianggap memiliki rasio dan
akal tidak lebih menjadi manusia yang menerima dan menerapkan saja nilai-nilai
yang dianggap benar tanpa bisa memperhatikan nilai itu sendiri,
karena dari pendidikan yang dijalani hanya sebagai sebuah jalan dan
harus dilalui sebagai prosedur yang wajar dan benar, niat untuk mengkritisi nilai-nilai
dan proses pendidikan yang dijalani, pendidikan yang mendidik atau malah
merobotisasi, telah berkurang atau malah telah menghilang dari sebagian besar
peserta didik. Pendidik menjadi Tuhan di dalam dunia persekolahan,
*Penulis adalah mahasiswa
Filsafat Angkatan 2008
*Juara 1 Debat Indonesia OIM FIB UI
2010, Filsafat Tim A
Sumber gambar http://pendidikan-myschool.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik
-Humas Media KOMAFIL FIB UI-