[Adityo Anggoro
Saragih]*
2 Mei menjadi tanggal yang tidak
biasa bagi kita. Ia berbeda dikarenakan pada tanggal tersebut kita merayakan
satu event tentang
pendidikan. Bagaimana cara kita merayakannya menjadi pertanyaan
kita bersama. Apakah dengan demonstrasi dan menuntut biaya pendidikan yang
murah? Dengan mengevaluasi ‘pendidikan’? Atau dengan berpesta pora karena pendidikan
kita telah berhasil dengan melahirkan orang-orang seperti Habibie ataupun Gus
Dur? Cara yang paling tepat untuk merayakannya adalah dengan mengevaluasi
‘pendidikan’ itu sendiri.
‘Pendidikan’ selama ini kita
maknai sebagai sebuah proses mendapatkan pengetahuan. Hal ini juga didukung
oleh Aristoteles yang menempatkan disposisi bahwa manusia memiliki hasrat untuk
mengetahui segala sesuatu. Proses mengetahui tersebut didukung oleh kemampuan
akal sehingga kita bisa mengetahui segala sesuatu dan membedakan sesuatu. (E.
Cassirer, Essay on Man, Yale: Yale
University,1976, 2). Sayangnya kita tidak memaknai hal tersebut sebagai sesuatu
yang politis. Asumsi kita selama ini mengafiliasikan ‘politis’ hanya dengan
partai politik, iklan politik, pemilu, propaganda. Padahal politis tidak hanya
sebatas itu saja. Oleh karena itu saya mencoba menafsirkan pendidikan secara
politis, yang kemudian akan memiliki konsekuensi bagi peradaban.
Karl Marx telah menjelaskan bahwa
terdapat antagonisme kelas dalam masyarakat. Antagonisme ini disebabkan adanya
kepemilikan alat produksi serta menjadi penopang kehidupan manusia, namun
terdapat kelompok yang tidak memiliki hal tersebut sehingga untuk mendapatkan
kebutuhan mau tidak mau kelompok tersebut harus bekerja pada kaum borjuis. Hal
yang menjadi penting adalah Marx memberikan pemahaman penting atas Ideology, artinya dalam antagonisme
tersebut kaum borjuis melakukan pertahanan
untuk kelanggengan kekuasaanya dengan cara memberikan ‘kesadaran palsu’, bukan
kehidupan yang menentukan kesadaran akan tetapi kesadaran yang menentukan
kehidupan. (David McLellan, Karl Marx
Selected Writings, Oxford : Oxford University, 1977, 164). ‘Kesadaran’ yang
di bentuk adalah sebuah kesadaran palsu, sebagai contoh agama mengajarkan
kesabaran sehingga eksploitasi kaum borjuis tetap langgeng tanpa mendapatkan
perlawanan, dan pendidikan hanya membentuk manusia sebagai asset untuk melayani
kepentingan kaum kapitalis
Louis Althusser melanjutkan
analisis yang telah diberikan oleh Marx terutama ideologi serta implikasinya
terhadap Pendidikan. Pendidikan dalam perspektif Althusser dibangun secara
lebih spesifik. Ia
melakukan pembatasan bahwa pendidikan adalah sekolah dan yang diajarkan di
sekolah tidak lebih dari bagaimana berperilaku ‘baik’, memerintah dengan
seharusnya, berbicara ‘kepada mereka’ dengan cara yang baik.(Louis Althusser, Tentang Ideologi (Yogyakarta :
Jalasutra, 2006, 9).
Jadi Pendidikan hanya sebagai perangkat praktis dan perangkat tersebut berguna
bagi kelas yang berkuasa. Lebih radikal lagi, kita dapat menafsirkan metode
Althusser bahwa pendidikan hanya melahirkan para budak bukan para pencipta.
Konsep ‘kekuasaan’ dalam
pendidikan ini juga dibahas oleh Edward Said. Ia melihat bahwa Orientalisme
sebagai gaya berfikir yang dilandasi adanya pembagian barat dan timur, muncul dalam
tradisi akademis. Implikasinya menurut Said, bahwa Barat memiliki otoritas yang
lebih daripada Timur (Bill Aschroft, Gareth Grifiths, Helen Tifin, Post Colonial Studies Reader, New York:
Routledge,1995. Orientalism Edward Said,88). Dampak nyatanya adalah adanya
penjajahan yang di lakukan Barat terhadap Negara jajahannya, India, dengan
alasan bahwa Barat memiliki kelebihan dan timur tidak, maka Timur akan kami
beri sesuatu yang ‘lebih’.
Jadi baik Marx, Althusser, Edward
Said melihat bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang politis. Marx melihat
kepentingan borjuis untuk memberikan kesadaran, dan perangkatnya adalah
pendidikan melalui derivasi moral, hukum, agama. Althusser melihat pendidikan
layaknya sebuah pabrik, dan Said melihat pendidikan sebagai perpanjangan tangan
kepentingan Barat. Semua hal tersebut memberikan penjalasan bahwa pendidikan adalah
katastrofi peradaban. Ia
gagal memberikan preskripsi akan peradaban melainkan Ia menjadi perusak
peradaban dengan cara menguasai, mendominasi, dan membentuk orang-orang yang setia pada sistem
yang telah dikuasai. Hal tersebut menjadi konsekuensi dari ‘pendidikan’ sehingga
kita tidak melihat pendidikan sebagai sesuatu yang politis lagi.
*Penulis
Adalah Mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia Angkatan 2007
Ketua Angkatan Filsafat 2007


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik
-Humas Media KOMAFIL FIB UI-