Home

Sabtu, 04 September 2010

Pendidikan adalah Katastrofi Peradaban


Pendidikan adalah Katastrofi Peradaban
[Adityo Anggoro Saragih]*

2 Mei menjadi tanggal yang tidak biasa bagi kita. Ia berbeda dikarenakan pada tanggal tersebut kita merayakan satu event tentang pendidikan. Bagaimana cara kita merayakannya menjadi pertanyaan kita bersama. Apakah dengan demonstrasi dan menuntut biaya pendidikan yang murah? Dengan mengevaluasi ‘pendidikan’? Atau dengan berpesta pora karena pendidikan kita telah berhasil dengan melahirkan orang-orang seperti Habibie ataupun Gus Dur? Cara yang paling tepat untuk merayakannya adalah dengan mengevaluasi ‘pendidikan’ itu sendiri.
‘Pendidikan’ selama ini kita maknai sebagai sebuah proses mendapatkan pengetahuan. Hal ini juga didukung oleh Aristoteles yang menempatkan disposisi bahwa manusia memiliki hasrat untuk mengetahui segala sesuatu. Proses mengetahui tersebut didukung oleh kemampuan akal sehingga kita bisa mengetahui segala sesuatu dan membedakan sesuatu. (E. Cassirer, Essay on Man, Yale: Yale University,1976, 2). Sayangnya kita tidak memaknai hal tersebut sebagai sesuatu yang politis. Asumsi kita selama ini mengafiliasikan ‘politis’ hanya dengan partai politik, iklan politik, pemilu, propaganda. Padahal politis tidak hanya sebatas itu saja. Oleh karena itu saya mencoba menafsirkan pendidikan secara politis, yang kemudian akan memiliki konsekuensi bagi peradaban.
Karl Marx telah menjelaskan bahwa terdapat antagonisme kelas dalam masyarakat. Antagonisme ini disebabkan adanya kepemilikan alat produksi serta menjadi penopang kehidupan manusia, namun terdapat kelompok yang tidak memiliki hal tersebut sehingga untuk mendapatkan kebutuhan mau tidak mau kelompok tersebut harus bekerja pada kaum borjuis. Hal yang menjadi penting adalah Marx memberikan pemahaman penting atas Ideology, artinya dalam antagonisme tersebut kaum borjuis melakukan pertahanan untuk kelanggengan kekuasaanya dengan cara memberikan ‘kesadaran palsu’, bukan kehidupan yang menentukan kesadaran akan tetapi kesadaran yang menentukan kehidupan. (David McLellan, Karl Marx Selected Writings, Oxford : Oxford University, 1977, 164). ‘Kesadaran’ yang di bentuk adalah sebuah kesadaran palsu, sebagai contoh agama mengajarkan kesabaran sehingga eksploitasi kaum borjuis tetap langgeng tanpa mendapatkan perlawanan, dan pendidikan hanya membentuk manusia sebagai asset untuk melayani kepentingan kaum kapitalis
Louis Althusser melanjutkan analisis yang telah diberikan oleh Marx terutama ideologi serta implikasinya terhadap Pendidikan. Pendidikan dalam perspektif Althusser dibangun secara lebih spesifik. Ia melakukan pembatasan bahwa pendidikan adalah sekolah dan yang diajarkan di sekolah tidak lebih dari bagaimana berperilaku ‘baik’, memerintah dengan seharusnya, berbicara ‘kepada mereka’ dengan cara yang baik.(Louis Althusser, Tentang Ideologi (Yogyakarta : Jalasutra, 2006, 9). Jadi Pendidikan hanya sebagai perangkat praktis dan perangkat tersebut berguna bagi kelas yang berkuasa. Lebih radikal lagi, kita dapat menafsirkan metode Althusser bahwa pendidikan hanya melahirkan para budak bukan para pencipta.
Konsep ‘kekuasaan’ dalam pendidikan ini juga dibahas oleh Edward Said. Ia melihat bahwa Orientalisme sebagai gaya berfikir yang dilandasi adanya pembagian barat dan timur, muncul dalam tradisi akademis. Implikasinya menurut Said, bahwa Barat memiliki otoritas yang lebih daripada Timur (Bill Aschroft, Gareth Grifiths, Helen Tifin, Post Colonial Studies Reader, New York: Routledge,1995. Orientalism Edward Said,88). Dampak nyatanya adalah adanya penjajahan yang di lakukan Barat terhadap Negara jajahannya, India, dengan alasan bahwa Barat memiliki kelebihan dan timur tidak, maka Timur akan kami beri sesuatu yang ‘lebih’.
Jadi baik Marx, Althusser, Edward Said melihat bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang politis. Marx melihat kepentingan borjuis untuk memberikan kesadaran, dan perangkatnya adalah pendidikan melalui derivasi moral, hukum, agama. Althusser melihat pendidikan layaknya sebuah pabrik, dan Said melihat pendidikan sebagai perpanjangan tangan kepentingan Barat. Semua hal tersebut memberikan penjalasan bahwa pendidikan adalah katastrofi peradaban. Ia gagal memberikan preskripsi akan peradaban melainkan Ia menjadi perusak peradaban dengan cara menguasai, mendominasi, dan membentuk orang-orang yang setia pada sistem yang telah dikuasai. Hal tersebut menjadi konsekuensi dari ‘pendidikan’ sehingga kita tidak melihat pendidikan sebagai sesuatu yang politis lagi.

*Penulis Adalah Mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia Angkatan 2007
  Ketua Angkatan Filsafat 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik

-Humas Media KOMAFIL FIB UI-