Home

Minggu, 05 September 2010

Redaksi Autopsy (Media KOMAFIL)



Redaksi Autopsy (Media KOMAFIL)

Pemimpin Redaksi      : Tika Sylvia Utami
Editor                          : Aufira Utami
Litbang                        : Adityo Anggoro, Fitri Kumalasari
Bendahara Umum       : Rizkya Dian Maharani
Design dan Layout     : Chandra Bientang
Fotografer                   : Annas A. Azis, Mutia nurafiati
Riset                            : Gisel, Alfira Astari
Redaksi                       : Annisa, Andri Septian
Kontributor                 : Donna Niagara Dinata, Richard Losando, Adam Azano, Dian Hikmawan

Cp: 02199618301
Redaksi menerima tulisan setiap bulannya untuk dimuat di Buletin Autopsy dan blog mahasiswafilsafatui.blogspot.com

Struktur KOMAFIL (Komunitas Mahasiswa Filsafat) Universitas Indonesia


Struktur KOMAFIL (Komunitas Mahasiswa Filsafat) Universitas Indonesia

Visi KOMAFIL : Terciptanya manusia yang integritas dengan perkembangan ilmu pengetahuan
Misi KOMAFIL :
  - Membentuk individu yang kritis, independen dan bermasyarakat.
  - Membentuk individu yang sinergis dengan komunitas.
  - Menjadi pemercepat dan pemicu perkembangan ilmu pengetahuan.
  - Menciptakan individu yang memiliki daya saing.

Struktur Kepengurusan KOMAFIL:
1. Ketua Umum          : M. Iswahyudi.
2. Sekretaris Umum    : Richard Boone
3. Bendahara Umum   : Siti Maskurotul Ainia
4. Litbang                    : Hario
5. Kesma                     : Hari Purwanto
6. Kestari                     : Yasin
7. Humas Eksternal     : Dipa Ena
8. Humas Internal       : Agrita Widiasari.
9. Humas Media          : Tika Sylvia Utami
10. Danus                    : Coni Agustin
11. Seni                       : Chandra Bientang
12. Olahraga                : Mahdityo Jati

Profil: Embun Kenyowati


Profil Embun Kenyowati
 A             : Tanggapan mengenai Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi yang    dewasa ini semakin mengalami perkembangan, serta kaitannya dengan keberadaan manusia itu sendiri.
EK           : Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi tentu saja diperlukan demi kemajuan peradaban manusia. Dalam Ilmu Pengetahuan sebenarnya masih bisa ditemukan kemungkinan/possibility di dalamnya. Demikian juga dengan Tekhnologi yang terus menerus berkembang. Pada dasarnya semua hal yang ada di dunia ini tentu memiliki 2 sisi (baik dan buruk, benar dan salah), dan di sinilah peranan manusia untuk memaknai hal tersebut. Sisi positif dan negatif tentu tidak dapat dapat dihilangkan begitu saja, begitupun juga dengan yang terjadi pada IPTEK.Contonya efek negatif IPTEK terhadap alam, yaitu berupa pengrusakkan alam yang tidak dapat terelakkan lagi. Akan tetapi hal tersebut kembali lagi pada cara manusia memandang fenomena tersebut.
A             : Tanggapan mengenai Paradigma pendidikan yang seringkali dikaitkan dengan persekolahan atau nilai (grade) dan ranking?
EK           : Ada sebuah istilah mengenai pendidikan, yakni ‘Long life education’. Menunjukkan bahwa ada hal lain di dalam pendidikan yang tidak hanya sebatas persekolahan atau nilai grade semata. Bentuk-bentuk formalitas seperti itu tidak dapat dipungkiri keberadaannya, akan tetapi jangan sampai melunturkan nilai-nilai (values) yang juga berada dibalik itu. Pembelajaran mengenai kehidupan itu sendiri juga tentunya berpengaruh untuk dapat meningkatkan kehidupan yang lebih baik.
A             : Tokoh yang inspiratif untuk Ibu?
EK           : Sebenarnya tidak ada secara khusus yang menginspirasi, tetapi 2 tokoh ini memiliki pandangan menarik, menurut saya. Pertama, Nietszche dengan pandangannya mengenai dualitas karakter Appolinian dan Dionysian dalam seni. Nietzsche memberi tempat bagi perbedaan yang paling berlawanan sekalipun. Semua perbedaan itu pada dasarnya bisa diterima dengan mencoba untuk memberikan ruang bagi perbedaan-perbedaan tersebut.  Kedua, Terry Eagleton (Literature and Cultural Studies): Seperti yang dikemukakan dalam beberapa bukunya, yakni “Illusion of Posmodernisme’ ataupun ‘After Theory’. Saya suka pada caranya bercerita di dalam buku-bukunya. Tentu saja karena semangat pembelaan pada yang tertindas dengan pendekatan marxisnya.
A             : Bagaimana awal ketertarikan Ibu terhadap Seni?
EK           : Hmm... semuanya diawali ketika saya menginjak usia 12 tahun dan sedang menempuh pendidikan formal sekolah dasar dan pendidikan informal, yakni Pesantren privat. Ketika itu saya merasa ironi sekali saat menemukan sebuah keadaan bahwa orang yang mengajari kebaikan itu, ternyata justru ada yang tidak menjalani apa yang diajarkannya. Inilah yang akhirnya menyebabkan saya mulai memiliki ketertarikan lain di dunia sastra dan mulai membaca terjemahan karya Anton Chekov, dalam majalah berbahasa Jawa ‘Panyebar Semangat (PS)’. Semenjak itu ketertarikan saya di dunia sastra mulai merambah ke dunia puisi, dan kemudian menginjak ke dunia seni.
Seni itu setara dengan bidang-bidang lainnya,, seperti Ilmu Pengetahuan,  tergantung dari bagaimana manusia yang menggelutinya. Kalaupun ada pandangan bahwa Seni itu dipandang sebelah mata, seharusnya ditanamkan terlebih dahulu bahwa apapun ilmunya, tergantung manusianya bukan dari jenis ilmu yang dipelajari.                   
A             : Mahasiswa Filsafat angkatan 2010 saat ini berjumlah 40 orang. Mengenai banyaknya anggapan yang berkembang di luar sana tentang ilmu filsafat dan tidak sedikit diantaranya mengaitkan dengan Atheisme. Tanggapan Ibu mengenai hal tersebut?
EK           : Sebenarnya itu semua tergantung problem yang dialami. Filsafat itu mengajak manusia untuk bisa berpikir secara kritis, rasional, sekaligus juga menata pikiran agar jelas pemilahannya. Beragama urusannya dengan Tuhan, memang ada ritual serta faktor budaya di dalamnya. Pada akhirnya pengalaman kita sendiri yang menentukan terhadap kebertuhananmu tersebut.
Sebaiknya memang tidak serta merta menyimpulkan mengenai Filsafat yang identik dengan atheis. Ketika mengatakan bahwa berfilsafat mengarah pada atheis, itu juga seharusnya setara dengan ungkapan bahwa filsafat akan membawa kita ke arah yang sangat religius. Itu baru cara berpikir yang adil atau setara.
Contoh: kalau semua ini diciptakan Tuhan dan orang berpikir bahwa Tuhan itu ada yang menciptakan, siapa yang menciptakan yang menciptakan Tuhan? Ini akan membawa kepada cara berpikir Infinite Regression. Dalam Filsafat, harus ada titik awal untuk berpikir dan itu adalah sebuah pengandaian. Matematika saja yang terlihat pasti, itu banyak pengandaiannya bukan?
A             : Pesan kesan setelah mendapatkan award sebagai dosen wanita inspirasional?
EK           : Saya tidak tahu apa yang menjadikan saya mendapat penghargaan sebagai dosen inspirasional. Perkiraan saya waktu itu adalah:
Pertama: Mungkin karena saya adalah cancer survivor. 5 tahun yang lalu saya didiagnosis kanker nasofaring dan rajin berobat ke dokter, masih bisa mendapat gelar Doktor setelah sakit. Mungkin hal tersebut menjadi motivasi bagi siapapun atau untuk para penderita bahwa sakit kanker dapat disembuhkan tanpa meninggalkan kegiatan sehari-hari. Kedua: Mungkin karena saya termasuk pengusung pluralisme (lewat pendidikan dan seni). Ketiga: Mungkin karena saya mengangkat seni. Disertasi saya mengutarakan bahwa melalui cara melihat yg berbeda akan menimbulkan cara pandang berbeda. Perbedaan-perbedaan itu bisa menghargai sesuatu karena adanya perbedaan sudut pandang. Intinya, bahwa berangkat dari seni (seni avant garde yang notabene sering tidak dimengerti oleh orang banyak), tapi dengan cara melihat visual berbeda, diharapkan kita bisa melihat sudut pandang yang berbeda juga.
A             : Pluralisme yang diusung itu seperti apa? Apa lewat sebuah organisasi atau institusi tertentu?
EK           : Oh, Bukan. Pluralisme yang saya usung itu lewat pendidikan dan seni. Pluralisme dalam pendidikan, yakni dengan mengungkapkan bahwa pendidikan itu bukan konsep untuk orang baik-baik saja. Saya Pernah mengajar anak korban narkotika, jadi kalau cuma yang baik-baik saja semua orang bisa, lantas bagaimana dengan yang bermasalah?. Itulah yang membuat saya mengutarakan bahwa pendidikan itu bisa menerima semuanya, bukan hanya yang baik-baik saja (yang normal)
*Embun Kenyowati Ekosiswi dilahirkan di Bojonegoro, 4 Juli 1956, studi pada jurusan Sastra Inggris IKIP Surabaya. Kemudian melanjutkan studinya di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Filsafat, dan memperoleh gelar sarjana dengan skripsi berjudul: Pemikiran Susanne K. Langer tentang seni sebagai simbol Presentasional. Gelar Magister Humaniora pun berhasil ditempuh pada tahun 1998 dengan thesis berjudul: Subyektifitas dalam Seni pada Pemikiran Kant, Hegel dan Nietzsche. Gelar Doktor pun akhirnya diraih oleh penulis buku kumpulan puisi ‘Episode Hitam’ ini pada 1978. Saat ini beliau aktif mengajar  Filsafat di Universitas Indonesia, khususnya dengan peminatan di bidang Estetika dan Filsafat Seni
*Reporter: Andri Septian. Annisa


*Fotografer: Annas A. Azzis
 ROBOT-ROBOT
 Anak-anak muda itu kini telah menjadi robot-robot
Diprogram oleh para orang tua, penguasa dan masyarakatnya
Jangan berkata itulah arah jaman kita
Kalau kita bisa bicara tapi tak berbuat apa-apa
Dan ketika robot-robot itu kelapara
Program pencurian, pemalakan dan penjarahan yang bekerja
Dan kita tak siap dengan program penanganannya
2 April 1999
-Embun Kenyowati E.-
(Diambil dari Buku Kumpulan Puisi Ilusi dan Ilustrasi, karya Alois A. Nugroho dan Embun Kenyowati)

Sinema : MALENA


Malena
Cast : Monica Belucci, Giuseppe Sulfaro
Director: Giuseppe Tornatore
Oleh : Efriani Effendi*

           Film ini berlatar belakang di Italia yang berada di bawah kekuasan Hitler pada masa Perang Dunia II. Malena Scordia (Monica Belucci) merupakan seorang perempuan cantik yang ditinggal suaminya, Nino Scordia, berperang. Malena dianggap berselingkuh selama suaminya menjalankan tugas. Munculnya kabar angin perselingkuhan Malena
disebabkan karena ia mengunjungi sang ayah yang telah tua.
           Sementara itu, Amaroso Renato (Giuseppe Sulfaro), seorang bocah laki-laki
berumur 12 tahun tidak mempercayai berita tersebut. Ia tahu bahwa Malena merupakan
istri yang setia karena Amaroso memperhatikan kehidupan Malena. Hal ini dilakukannya
semenjak Malena menjadi ‘imajinasi nakalnya’ dengan segala kecantikannya.
Membantu bahkan sampai mengintip Malena dilakukannya atas dasar obsesi liarnya.
Hingga suatu saat Malena mendapat kabar bahwa suaminya tewas di peperangan. Kesedihan melanda Malena tanpa satu orangpun yang peduli, bahkan ayahnya sendiri yang terpengaruh oleh fitnah yang berkembang. Ditambah dengan kesulitan keuangan, Malena tetap berusaha bekerja. Akan tetapi, statusnya sebagai janda mempersulit dirinya. Bahkan perempuan lain menghujatnya sebagai perebut suami orang lain.
           Kelaparan semakin melanda dirinya, segala upaya telah menemui jalan buntu. Akhirnya Malena keluar dari rumahnya dengan menggunakan lipstik merah dan sedikit berdandan. Ia telah melepaskan pakaian berduka, dan berjalan menuju tengah kota. Kemudian ia duduk di sebuah kafe dengan mengeluarkan sebatang rokok, kemudian lelaki di sekitarnya berebut ingin menyalakan korek buat Malena. Dari sinilah Malena benar-benar menjadi seorang pelacur karena masyarakat sendiri yang memaksa ia menjadi pelacur. Ia kemudian melayani tentara Jerman yang menduduki Italia.
          Sampailah masa Hitler dijatuhkan, tentara Jerman pun diusir
dari tanah Italia. Para pelacur diseret keluar dan dianggap lebih rendah
dari binatang karena telah melayani tentara Jerman. Dan perlakuan
yang lebih parah didapatkan oleh Malena. Ia diseret paksa, dilempari
dengan batu, ditelanjangi, hingga rambutnya digunting seenaknya.
Teriakan Malena tidak dihiraukan, para perempuan semakin membabi
buta. Di tengah ketidakberdayaan tersebut ia diusir dari daerah tempat tinggalnya, tanpa apa-apa. Amaroso ingin menolong, tetapi ia tidak
kuasa karena pada masa itu ia hanya seorang bocah. Malena pun pergi dengan keadaan yang menyedihkan. Pada adegan inilah yang membuat saya berdecak kagum dengan ketotalitasan Belucci.
          Tahun pun berganti, dan Nino kembali ke Italia. Ternyata ada kesalahan dalam pemberitaan kematiannya. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati rumahnya ditempati orang lain dan istrinya tidak diketahui kemana. Setiap penduduk yang ditanyai membisu, seakan-akan menyadari kesalahan mereka. Bukannya membantu, mereka malah tetap diam di tengah perasaan bersalah. Amaroso pun menuliskan surat pada Nino dan menceritakan semua yang menimpa Malena semenjak ia pergi. Amaroso menganggap bahwa hanya inilah yang dapat dilakukannya demi perempuan imajinasinya yang difitnah. Akhirnya, Nino membawa Malena kembali ke Italia. Malena berdiri tegap dan melangkah dengan pasti melewati orang-orang yang berbuat tidak adil padanya. Kali ini saya (lagi-lagi) berdecak kagum. Dan tiba-tiba saja orang-orang tersebut menjadi sangat baik seakan-akan menebus kesalahan mereka.
           Film ini merefleksikan bahwa terkadang masyarakat lah yang membentuk kita secara paksa. Ada stereotype salah yang berkembang dimasyarakat. Di sini kita akan melihat ketotalitasan acting Monica Belucci yang terletak pada raut mukanya. Film ini juga sangat menggambarkan bahwa hidup ini ironis dan penderitaan. Tidak banyak dialog yang terlontar dalam film ini, tetapi kalian bisa memahami dengan melihat raut wajah dari pemain.
                Apakah kita masih di dalam little box bentukan masyarakat? 

*Penulis adalah mahasiswa Filsafat angkatan 07

Prometheus


(Johan Rady Mahasiswa Filsafat UI)*

Tiada kutahu yang lebih nista
Di bawah matahari selain kalian,
dewa-dewa.
Dengan hina hidupkan
Kepadukaan kalian
Dari kurban persembahan
Dan hembusan doa . . .

Sajak di atas saya ambil dari Goethe, judulnya Prometheus. Seperti yang kita tahu, Prometheus adalah seorang tokoh mitologi Yunani yang dihukum oleh Zeus karena tanpa seizinnya telah menghadiahkan api –sebagai lambang kebudayaan– kepada manusia. Ia dirantai pada sebuah tebing dan seekor burung tiap hari datang memakan jantungnya. Saya tidak tahu kenapa Prometheus begitu mempercayai manusia, makhluk yang bahkan ia bentuk sendiri sesuai citra dirinya dari sebongkah tanah liat.
Kenapa manusia, Prometheus? Kenapa pula kau menentang Zeus? Tak banyak yang bisa saya mengerti, kecuali kenyataan bahwa kau adalah ”kafir” di antara sejenismu. Dengan gagah kau menghina dewa-dewa, sebagaimana dengan tegar kau memerangi para titan. Dalam trilogi drama Aischylos dikisahkan bagaimana engkau bersekutu dengan Zeus memerangi dan mengalahkan para titan. Tapi, katamu: ”Duhai, kalbuku yang membara dan suci, bukankah kau yang membereskannya sendiri?”.
Kalbuku”, kata Prometheus. Kalbu yang sama dengan yang ada dalam diri setiap kita, manusia. Menyesalkah Prometheus? Ketika banyak dari manusia malah dengan bangga berharap-harap, menghembuskan doa, berkurban atau dikurbankan, dan berterima kasih kepada dewa-dewa, menyesalkah dia?
Tidak banyak yang menyadarinya, tetapi Prometheus menciptakan manusia bukan sebagai sebuah perkakas. Seseorang menciptakan perkakas hanya ketika kegunaan dan tujuan akhir perkakas tersebut telah dirumuskan. Gunting, misalnya, diciptakan ketika manusia tahu dan sadar penuh apa kegunaan gunting. Maka gunting tidak akan pernah bisa keluar dari kodrat dan tugasnya sebagai sebuah gunting: memotong kertas.
Dan manusia bukanlah perkakas. Prometheus bahkan tidak pernah tahu akan jadi apa ”hasil karya”-nya. Esensi manusia belum ada ketika Prometheus membentuknya dari tanah liat. Prometheus hanya bisa berangan-angan bahwa manusia bisa segera sadar akan kebebasannya sendiri, lalu melepaskan diri dari belenggu takdir dan kodrat yang ditimpakan oleh para dewa. Kita mendengar doa Prometheus dari sajak Goethe yang indah:
Di sini kududuk, menggubah manusia
Sesuai citraku,
Suatu kaum yang menyerupai aku,
Agar menderita, menangis,
Sukaria, bahagia,
Agar tak menggubrismu,
Sebagaimana aku.
Seberapa banyak dari kita yang sadar, tidak ada bentuk yang pasti perihal apa itu ”manusia”. Kita tidak dilahirkan dari sebuah keinginan dan rumusan mutlak para dewa. Tidak, tidak! Tidak seperti itu. Dengarkan Prometheus sekali lagi dan kita pun tahu: manusia diciptakan hanya dari sebuah harap.

*Penulis adalah mahasiswa Filsafat UI Angkatan 2007
Sumber foto: www.scott-eaton.com ; http://maltesecrossfiredesigns.com