Blog yang menjadi wadah dalam mengembangkan tulisan dari mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia yang dikelola oleh biro Humas Media KOMAFIL FIB UI 2010. Viva Homini... Viva Logos... Viva Philosophya
Senin, 27 September 2010
Minggu, 05 September 2010
Redaksi Autopsy (Media KOMAFIL)
Redaksi Autopsy (Media KOMAFIL)
Pemimpin Redaksi :
Tika Sylvia Utami
Editor :
Aufira Utami
Litbang :
Adityo Anggoro, Fitri Kumalasari
Bendahara Umum :
Rizkya Dian Maharani
Design dan Layout :
Chandra Bientang
Fotografer :
Annas A. Azis, Mutia nurafiati
Riset :
Gisel, Alfira Astari
Redaksi :
Annisa, Andri Septian
Kontributor :
Donna Niagara Dinata, Richard Losando, Adam Azano, Dian Hikmawan
Email: Autopsyfilsafat@yahoo.com
Cp: 02199618301
Redaksi menerima tulisan setiap bulannya untuk dimuat
di Buletin Autopsy dan blog mahasiswafilsafatui.blogspot.com
Label:
2. Redaksi AUTOPSY
Struktur KOMAFIL (Komunitas Mahasiswa Filsafat) Universitas Indonesia
Struktur KOMAFIL (Komunitas Mahasiswa Filsafat)
Universitas Indonesia
Visi KOMAFIL : Terciptanya manusia yang integritas dengan
perkembangan ilmu pengetahuan
Misi KOMAFIL :
- Membentuk individu yang kritis, independen
dan bermasyarakat.
- Membentuk individu yang sinergis dengan
komunitas.
- Menjadi pemercepat dan pemicu perkembangan
ilmu pengetahuan.
- Menciptakan individu yang memiliki daya
saing.
1. Ketua Umum :
M. Iswahyudi.
2. Sekretaris Umum :
Richard Boone
3. Bendahara Umum :
Siti Maskurotul Ainia
4. Litbang :
Hario
5. Kesma :
Hari Purwanto
6. Kestari :
Yasin
7. Humas Eksternal :
Dipa Ena
8. Humas Internal :
Agrita Widiasari.
9. Humas Media :
Tika Sylvia Utami
10. Danus :
Coni Agustin
11. Seni :
Chandra Bientang
12. Olahraga :
Mahdityo Jati
Label:
1. Struktur KOMAFIL
Profil: Embun Kenyowati
Profil Embun Kenyowati
A : Tanggapan mengenai Ilmu Pengetahuan dan
Tekhnologi yang dewasa ini semakin
mengalami perkembangan, serta kaitannya dengan keberadaan manusia itu sendiri.
EK :
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi tentu saja diperlukan demi kemajuan
peradaban manusia. Dalam Ilmu Pengetahuan sebenarnya masih bisa ditemukan
kemungkinan/possibility di dalamnya. Demikian juga dengan Tekhnologi yang terus
menerus berkembang. Pada dasarnya semua hal yang ada di dunia ini tentu
memiliki 2 sisi (baik dan buruk, benar dan salah), dan di sinilah peranan
manusia untuk memaknai hal tersebut. Sisi positif dan negatif tentu tidak dapat
dapat dihilangkan begitu saja, begitupun juga dengan yang terjadi pada
IPTEK.Contonya efek negatif IPTEK terhadap alam, yaitu berupa pengrusakkan alam
yang tidak dapat terelakkan lagi. Akan tetapi hal tersebut kembali lagi pada
cara manusia memandang fenomena tersebut.
A : Tanggapan mengenai Paradigma pendidikan yang
seringkali dikaitkan dengan persekolahan atau nilai (grade) dan ranking?
EK : Ada
sebuah istilah mengenai pendidikan, yakni ‘Long life education’. Menunjukkan
bahwa ada hal lain di dalam pendidikan yang tidak hanya sebatas persekolahan
atau nilai grade semata. Bentuk-bentuk formalitas seperti itu tidak dapat dipungkiri
keberadaannya, akan tetapi jangan sampai melunturkan nilai-nilai (values) yang
juga berada dibalik itu. Pembelajaran mengenai kehidupan itu sendiri juga
tentunya berpengaruh untuk dapat meningkatkan kehidupan yang lebih baik.
A : Tokoh yang inspiratif untuk Ibu?
A : Bagaimana awal ketertarikan Ibu terhadap
Seni?
EK : Hmm...
semuanya diawali ketika saya menginjak usia 12 tahun dan sedang menempuh
pendidikan formal sekolah dasar dan pendidikan informal, yakni Pesantren
privat. Ketika itu saya merasa ironi sekali saat menemukan sebuah keadaan bahwa
orang yang mengajari kebaikan itu, ternyata justru ada yang tidak menjalani apa
yang diajarkannya. Inilah yang akhirnya menyebabkan saya mulai memiliki
ketertarikan lain di dunia sastra dan mulai membaca terjemahan karya Anton
Chekov, dalam majalah berbahasa Jawa ‘Panyebar Semangat (PS)’. Semenjak itu
ketertarikan saya di dunia sastra mulai merambah ke dunia puisi, dan kemudian
menginjak ke dunia seni.
Seni itu setara dengan bidang-bidang lainnya,, seperti Ilmu
Pengetahuan, tergantung dari bagaimana
manusia yang menggelutinya. Kalaupun ada pandangan bahwa Seni itu dipandang
sebelah mata, seharusnya ditanamkan terlebih dahulu bahwa apapun ilmunya,
tergantung manusianya bukan dari jenis ilmu yang dipelajari.
A : Mahasiswa Filsafat angkatan 2010 saat ini
berjumlah 40 orang. Mengenai banyaknya anggapan yang berkembang di luar sana
tentang ilmu filsafat dan tidak sedikit diantaranya mengaitkan dengan Atheisme.
Tanggapan Ibu mengenai hal tersebut?
EK :
Sebenarnya itu semua tergantung problem yang dialami. Filsafat itu mengajak
manusia untuk bisa berpikir secara kritis, rasional, sekaligus juga menata
pikiran agar jelas pemilahannya. Beragama urusannya dengan Tuhan, memang ada
ritual serta faktor budaya di dalamnya. Pada akhirnya pengalaman kita sendiri
yang menentukan terhadap kebertuhananmu tersebut.
Sebaiknya memang tidak serta merta menyimpulkan mengenai
Filsafat yang identik dengan atheis. Ketika mengatakan bahwa berfilsafat
mengarah pada atheis, itu juga seharusnya setara dengan ungkapan bahwa filsafat
akan membawa kita ke arah yang sangat religius. Itu baru cara berpikir yang
adil atau setara.
Contoh: kalau semua ini diciptakan Tuhan dan orang berpikir
bahwa Tuhan itu ada yang menciptakan, siapa yang menciptakan yang menciptakan
Tuhan? Ini akan membawa kepada cara berpikir Infinite Regression. Dalam
Filsafat, harus ada titik awal untuk berpikir dan itu adalah sebuah
pengandaian. Matematika saja yang terlihat pasti, itu banyak pengandaiannya
bukan?
A : Pesan kesan setelah mendapatkan award sebagai
dosen wanita inspirasional?
EK : Saya
tidak tahu apa yang menjadikan saya mendapat penghargaan sebagai dosen
inspirasional. Perkiraan saya waktu itu adalah:
A : Pluralisme yang diusung itu seperti apa? Apa
lewat sebuah organisasi atau institusi tertentu?
EK : Oh,
Bukan. Pluralisme yang saya usung itu lewat pendidikan dan seni. Pluralisme
dalam pendidikan, yakni dengan mengungkapkan bahwa pendidikan itu bukan konsep
untuk orang baik-baik saja. Saya Pernah mengajar anak korban narkotika, jadi
kalau cuma yang baik-baik saja semua orang bisa, lantas bagaimana dengan yang
bermasalah?. Itulah yang membuat saya mengutarakan bahwa pendidikan itu bisa
menerima semuanya, bukan hanya yang baik-baik saja (yang normal)
*Embun Kenyowati Ekosiswi dilahirkan di Bojonegoro, 4 Juli
1956, studi pada jurusan Sastra Inggris IKIP Surabaya. Kemudian melanjutkan
studinya di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Filsafat, dan memperoleh gelar
sarjana dengan skripsi berjudul: Pemikiran Susanne K. Langer tentang seni
sebagai simbol Presentasional. Gelar Magister Humaniora pun berhasil ditempuh
pada tahun 1998 dengan thesis berjudul: Subyektifitas dalam Seni pada Pemikiran
Kant, Hegel dan Nietzsche. Gelar Doktor pun akhirnya diraih oleh penulis buku
kumpulan puisi ‘Episode Hitam’ ini pada 1978. Saat ini beliau aktif
mengajar Filsafat di Universitas
Indonesia, khususnya dengan peminatan di bidang Estetika dan Filsafat Seni
*Reporter: Andri
Septian. Annisa
*Fotografer: Annas A.
Azzis
Anak-anak muda itu kini telah menjadi
robot-robot
Diprogram oleh para
orang tua, penguasa dan masyarakatnya
Jangan berkata itulah
arah jaman kita
Kalau kita bisa
bicara tapi tak berbuat apa-apa
Dan ketika
robot-robot itu kelapara
Program pencurian,
pemalakan dan penjarahan yang bekerja
Dan kita tak siap
dengan program penanganannya
2 April 1999
-Embun Kenyowati E.-
(Diambil dari Buku
Kumpulan Puisi Ilusi dan Ilustrasi, karya Alois A. Nugroho dan Embun Kenyowati)
Sinema : MALENA
Malena
Cast : Monica Belucci,
Giuseppe Sulfaro
Director: Giuseppe
Tornatore
Oleh : Efriani Effendi*
Film
ini berlatar belakang di Italia yang berada di bawah kekuasan Hitler pada masa Perang Dunia II.
Malena Scordia (Monica Belucci) merupakan seorang perempuan cantik yang ditinggal
suaminya, Nino Scordia, berperang. Malena dianggap berselingkuh selama suaminya
menjalankan tugas. Munculnya kabar angin perselingkuhan Malena
disebabkan karena ia
mengunjungi sang ayah yang telah tua.
Sementara itu, Amaroso Renato (Giuseppe
Sulfaro), seorang bocah laki-laki
berumur 12 tahun tidak
mempercayai berita tersebut. Ia tahu bahwa Malena merupakan
istri yang setia karena
Amaroso memperhatikan kehidupan Malena. Hal ini dilakukannya
semenjak Malena menjadi
‘imajinasi nakalnya’ dengan segala kecantikannya.
Membantu bahkan sampai
mengintip Malena dilakukannya atas dasar obsesi liarnya.
Hingga suatu saat Malena
mendapat kabar bahwa suaminya tewas di peperangan. Kesedihan melanda Malena
tanpa satu orangpun yang peduli, bahkan ayahnya sendiri yang terpengaruh oleh
fitnah yang berkembang. Ditambah dengan kesulitan keuangan, Malena tetap
berusaha bekerja. Akan tetapi, statusnya sebagai janda mempersulit dirinya.
Bahkan perempuan lain menghujatnya sebagai perebut suami orang lain.
Kelaparan semakin melanda dirinya,
segala upaya telah menemui jalan buntu. Akhirnya Malena keluar dari rumahnya
dengan menggunakan lipstik merah dan sedikit berdandan. Ia telah melepaskan
pakaian berduka, dan berjalan menuju tengah kota. Kemudian ia duduk di sebuah
kafe dengan mengeluarkan sebatang rokok, kemudian lelaki di sekitarnya berebut
ingin menyalakan korek buat Malena. Dari sinilah Malena benar-benar menjadi
seorang pelacur karena masyarakat sendiri yang memaksa ia menjadi pelacur. Ia
kemudian melayani tentara Jerman yang menduduki Italia.
dari tanah Italia. Para
pelacur diseret keluar dan dianggap lebih rendah
dari binatang karena
telah melayani tentara Jerman. Dan perlakuan
yang lebih parah
didapatkan oleh Malena. Ia diseret paksa, dilempari
dengan batu,
ditelanjangi, hingga rambutnya digunting seenaknya.
Teriakan Malena tidak
dihiraukan, para perempuan semakin membabi
buta. Di tengah
ketidakberdayaan tersebut ia diusir dari daerah tempat tinggalnya, tanpa
apa-apa. Amaroso ingin menolong, tetapi ia tidak
kuasa karena pada masa
itu ia hanya seorang bocah. Malena pun pergi dengan keadaan yang
menyedihkan. Pada adegan inilah yang membuat saya berdecak
kagum dengan ketotalitasan Belucci.
Tahun pun berganti, dan Nino kembali
ke Italia. Ternyata ada kesalahan dalam pemberitaan kematiannya. Betapa
terkejutnya ia ketika mendapati rumahnya ditempati orang lain dan istrinya
tidak diketahui kemana. Setiap penduduk yang ditanyai membisu, seakan-akan
menyadari kesalahan mereka. Bukannya membantu, mereka malah tetap diam di
tengah perasaan bersalah. Amaroso pun menuliskan surat pada Nino dan
menceritakan semua yang menimpa Malena semenjak ia pergi. Amaroso menganggap
bahwa hanya inilah yang dapat dilakukannya demi perempuan imajinasinya yang
difitnah. Akhirnya, Nino membawa Malena kembali ke Italia. Malena berdiri tegap
dan melangkah dengan pasti melewati orang-orang yang berbuat tidak adil
padanya. Kali ini saya (lagi-lagi) berdecak kagum. Dan tiba-tiba saja
orang-orang tersebut menjadi sangat baik seakan-akan menebus kesalahan mereka.
Film ini merefleksikan bahwa
terkadang masyarakat lah yang membentuk kita secara paksa. Ada stereotype salah
yang berkembang dimasyarakat. Di sini kita akan melihat ketotalitasan acting
Monica Belucci yang terletak pada raut mukanya. Film ini juga sangat
menggambarkan bahwa hidup ini ironis dan penderitaan. Tidak banyak dialog yang
terlontar dalam film ini, tetapi kalian bisa memahami dengan melihat raut wajah
dari pemain.
Apakah kita masih di dalam little box bentukan
masyarakat?
*Penulis adalah
mahasiswa Filsafat angkatan 07
Prometheus
(Johan Rady
Mahasiswa Filsafat UI)*
Tiada kutahu yang lebih nista
Di bawah matahari selain kalian,
dewa-dewa.
dewa-dewa.
Dengan hina hidupkan
Kepadukaan kalian
Dari kurban persembahan
Dan hembusan doa . . .
Sajak di atas saya ambil dari Goethe, judulnya Prometheus. Seperti
yang kita tahu, Prometheus adalah seorang tokoh mitologi Yunani yang dihukum
oleh Zeus karena tanpa seizinnya telah menghadiahkan api –sebagai lambang
kebudayaan– kepada manusia. Ia dirantai pada sebuah tebing dan seekor burung
tiap hari datang memakan jantungnya. Saya tidak tahu kenapa Prometheus begitu
mempercayai manusia, makhluk yang bahkan ia bentuk sendiri sesuai citra dirinya
dari sebongkah tanah liat.
Kenapa manusia, Prometheus? Kenapa pula kau menentang Zeus? Tak banyak yang
bisa saya mengerti, kecuali kenyataan bahwa kau adalah ”kafir” di antara
sejenismu. Dengan gagah kau menghina dewa-dewa, sebagaimana dengan tegar kau memerangi
para titan. Dalam trilogi drama Aischylos dikisahkan bagaimana engkau bersekutu
dengan Zeus memerangi dan mengalahkan para titan. Tapi, katamu: ”Duhai,
kalbuku yang membara dan suci, bukankah kau yang membereskannya sendiri?”.
”Kalbuku”, kata Prometheus. Kalbu yang sama dengan yang ada dalam
diri setiap kita, manusia. Menyesalkah Prometheus? Ketika banyak dari manusia
malah dengan bangga berharap-harap, menghembuskan doa, berkurban atau
dikurbankan, dan berterima kasih kepada dewa-dewa, menyesalkah dia?
Tidak banyak yang menyadarinya, tetapi Prometheus menciptakan manusia bukan
sebagai sebuah perkakas. Seseorang
menciptakan perkakas hanya ketika kegunaan dan tujuan akhir perkakas tersebut telah
dirumuskan. Gunting, misalnya, diciptakan ketika manusia tahu dan sadar penuh
apa kegunaan gunting. Maka gunting tidak akan pernah bisa keluar dari kodrat
dan tugasnya sebagai sebuah gunting: memotong kertas.
Dan manusia bukanlah perkakas.
Prometheus bahkan tidak pernah tahu akan jadi apa ”hasil karya”-nya. Esensi
manusia belum ada ketika Prometheus membentuknya dari tanah liat. Prometheus
hanya bisa berangan-angan bahwa manusia bisa segera sadar akan kebebasannya
sendiri, lalu melepaskan diri dari belenggu takdir dan kodrat yang ditimpakan
oleh para dewa. Kita mendengar doa Prometheus dari sajak Goethe yang indah:
Di sini kududuk, menggubah manusia
Sesuai citraku,
Suatu kaum
yang menyerupai aku,
Agar
menderita, menangis,
Sukaria, bahagia,
Agar tak menggubrismu,
Sebagaimana aku.
Seberapa banyak dari kita yang sadar, tidak ada bentuk yang pasti perihal
apa itu ”manusia”. Kita tidak dilahirkan dari sebuah keinginan dan rumusan
mutlak para dewa. Tidak, tidak! Tidak seperti itu. Dengarkan Prometheus sekali
lagi dan kita pun tahu: manusia diciptakan hanya dari sebuah harap.
*Penulis adalah mahasiswa Filsafat
UI Angkatan 2007
Sumber foto: www.scott-eaton.com ; http://maltesecrossfiredesigns.com
Langganan:
Komentar (Atom)






