Home

Sabtu, 04 September 2010

Di mana Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?


Di mana Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?
(Adam Azano)*



“Umar Bakri Umar Bakri
Pegawai negeri
Umar Bakri Umar Bakri
Empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati”

            Kenapa kita harus percaya bumi itu berbentuk bola, Pelangi terbentuk karena pembiasan cahaya, dan lain sebagainya? Padahal kita belum pernah mengamati secara langsung, hanya dari buku. Jawaban yang didapatkan serinngkali tidak memuaskan, yakni “Di buku sudah tertulis begitu, jadi percaya saja.”
            Mungkin buat sebagian orang cerita di atas adalah cerita yang aneh. Untuk apa menanyakan sesuatu yang sudah pasti?. Tapi hal kecil inilah cikal bakal masalah yang buruk bagi sistem pendidikan di Indonesia, karena secara tak langsung guru tersebut mematikan hasrat berfikir kreatif, analisis dan kritis dari manusia karena hanya mengikuti sumber dari buku saja tanpa pengamatan. Di dalam pendidikan negeri kita pada akhirnya terciptalah mental robot dan pekerja yang hanya bisa mengetahui menggunakan suatu teori dari buku, tapi tak berbakat menciptakan inovasi baru.
            Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Pendidikan bermakna proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Definisi yang terdapat dalam Kamus tersebut hanya menjadi kata-kata belaka. Ketika peran pengajar hanya mentransfer ilmu saja pada muridnya. Inilah yang harus dirubah, yakni melatih muridnya menjadi dewasa, tidak hanya kecakapan di bidang keilmuan, tetapi juga mentalitas haus akan ilmu, dan melatih proses kedewasaan muridnya.
            Pemaparan selanjutnya mengenai bagaimana pendidikan Indonesia yang selama ini hanya membuat manusia menjadi penghapal rumus yang handal, menjadi manusia yang mempunyai kemampuan kreatif, kritis, dan haus akan ilmu pengetahuan dengan menitikberatkan pendidik sebagai peranan yang aktif, dan yang paling utama melatih mentalitas pengabdian yang jarang dimiliki guru sekarang.
            Memang banyak guru yang mengajarkan ilmunya, tetapi tidak banyak yang mampu melatih daya nalar, analisis, kritis, dan mempertahankan rasa ingin tahu muridnya. Saat kita masih anak-anak, kehidupan merupakan tempat bermain yang luar biasa menariknya, selalu membuat kita ingin tahu dan bertanya. Tetapi saat seorang anak bertanya terlalu banyak kepada orang dewasa, kebanyakan orang dewasa mendiamkannya atau malah menyuruh anak tersebut untuk jangan banyak bertanya, dan akhirnya  diberi kesempatan ke sekolah, dimana seharusnya dia mampu bertanya sepuasnya. Pada akhirnya guru menjadi harapan bagi seorang manusia untuk tetap mempertahankan rasa keingintahuan tersebut. ironisnya sedikit guru yang mau melatih muridnya menjadi manusia yang mencintai dan haus akan ilmu. Banyak guru lebih menerapkan model sosok yang hanya memberitahukan ilmu tanpa mengajak murid menjadi lebih kritis membahas permasalahan ilmu tersebut atau dengan kata lain bersifat satu arah, bukannya terjadi komunikasi dua arah. Belum lagi jika guru tersebut bersikap hierarkis yaitu jika muridnya yang ingin mengetahui sesuatu harus sang murid yang pergi kepada sang guru tersebut. Apa yang ingin dihasilkan dari guru yang kehilangan sikap ikhlas dalam mendidik?
            Ada sebuah komik Jepang yang menceritakan sosok guru yang berbeda berjudul GTO, di sana sang karakter utama yaitu Eikichi Onizuka, ditampilkan sebagai guru yang benar-benar menjadi sahabat muridnya. Kemampuan Onizuka dalam pendidikan akademis terbilang kurang, tetapi dia mampu memberikan pengajaran yang lebih berharga yaitu menjadi sosok guru yang menyayangi anak muridnya, serta menjadikan sekolah dan pendidikan adalah sesuatu yang menyenangkan, sehingga tanpa disuruhpun murid-muridnya dengan senang hati pergi kesekolah. Berbeda dengan kebiasaan kita dimana sekolah hanya menjadi kewajiban saja.
            Mungkin sudah hilang jiwa Umar Bakrie yang tetap mengabdi walaupun muridnya sudah banyak yang menjadi menteri dan professor, tetapi sang guru tetap setia dengan sepedanya untuk mengajar murid- muridnya. Memang bisa dikatakan miris melihat bagaimana kebanyakan guru melakukan cara pengabdiannya, meski tak sedikit juga yang mengkomersialisasikan ilmu yang dimilikinya. Padahal menjadi guru adalah suatu pengabdian.
Pada akhirnya guru adalah sosok penting tentang bagaimana kelangsungan pendidikan negeri ini. Lalu bagaimana seharusnya citra guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa itu benar-benar dihayati sebagai bentuk pengabdian, dan yang paling utama bagi negeri ini adalah bagaimana seorang guru mampu mengajar dan belajar dari muridnya, seperti perkataan R. Verdi “Good teachers are those who know how little they know. Bad teachers are those who think they know more than they don't know.”

*Penulis adalah mahasiswa Filsafat angkatan 09

Pendidikan : Investasi dan/atau Humanisasi


Pendidikan : Investasi dan/atau Humanisasi
Oleh: Dona Niagara Dinata*

             Mayoritas manusia Indonesia, khususnya kalangan akademisi akan mengatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses atau hal yang penting, dan kata pendidikan di sini merujuk pada pengertian pendidikan dalam arti sempit, yaitu dunia persekolahan. Semua orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik, apa pun caranya. Sebagian besar orang tua dan bahkan pelaku akademis itu sendiri bisa melakukan apa pun untuk mewujudkan keinginannya dalam mengenyam pendidikan yang terbaik. Pendidikan dipandang sebagai salah satu jalan investasi yang paling menentukan kesuksesan seseorang dalam menjalani kehidupan, bahkan mitos dalam dunia akademis bahwa pendidikan (persekolahan) adalah penentu masa depan menjadi semakin kuat. Pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah apa yang menjadi tujuan dari menjalani pendidikan tersebut ?
            Pendidikan telah mengalami pereduksian pemaknaan. Pendidikan (baca : persekolahan) telah menjadi sebuah ladang emas bagi individu yang ingin mendapatkan apa yang mereka anggap sebagai pendidikan, baik dari sisi penyelenggara maupun sebagai peserta didik dan keluarganya. Terjadi pereduksian pemaknaan yang sangat memprihatinkan di sini. Pendidikan dianggap sebagai jalan untuk menuju masa depan yang diiming-imingi dengan kejayaan dalam artian kelimpahan pada bentuk materi. Pendidikan dianggap sebagai sebagai salah satu jalan pembebasan dari keterbelakangan, kemampuan secara finansial ataupun sebagai sarana untuk mempertahankan kekuatan finansial keluarga. Tidak bisa dipungkiri bahwa materi finansial memang hal yang penting terutama dalam mengukur kesejahteraan manusia, namun pemahaman yang melulu dan berorientasi hanya pada titik fokus itu telah men-dehumanisasi manusia. Dan dehumanisasi itu telah mengakar sebagai mitos yang dipercaya sebagian besar kalangan akademisi sebagai tujuan yang harus dicapai.
            Pertanyaan seputar, “kuliah jurusan apa?”, yang kemudian dilanjutkan dengan,“setelah lulus prospek kerjanya di mana?“, adalah pertanyaan yang menggambarkan bagaimana paradigma masyarakat kita dalam menilai pendidikan. Pendidikan hanya dipandang dari segi kebermanfaatan untuk mendapatkan status ekonomi yang lebih layak. Keberhasilan orang menjalani pendidikan adalah profesi apa yang bisa didapat dan seberapa besar bayaran yang didapat dari menjalani profesi itu. Berpikir seperti itu memang tidak bisa disalahkan namun paradigma yang terbangun dari konsep berpikir seperti itulah yang membuat pendidikan menjadi tereduksi ke dalam sebuah proses yang cacat, pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia menjadi tergeser kebelakang dan tertutupi oleh tujuan-tujuan yang lain, dan dominan mengarah kepada tujuan pragmatis.
            Tujuan pendidikan telah bergeser menjadi investasi dalam bidang ekonomi sehingga pendidikan tidak lagi menjadi tempat untuk mengasah kekritisan rasio, tetapi telah ditumpulkan oleh tujuan pragmatis tersebut. Pendidikan yang semestinya untuk meningkatkan pemahaman manusia dan mengasah kepekaannya berubah menjadi pabrik pencipta manusia mekanistis. Manusia yang dianggap memiliki rasio dan akal tidak lebih menjadi manusia yang menerima dan menerapkan saja nilai-nilai yang dianggap benar tanpa bisa memperhatikan nilai itu sendiri, karena dari pendidikan yang dijalani hanya sebagai sebuah jalan dan harus dilalui sebagai prosedur yang wajar dan benar, niat untuk mengkritisi nilai-nilai dan proses pendidikan yang dijalani, pendidikan yang mendidik atau malah merobotisasi, telah berkurang atau malah telah menghilang dari sebagian besar peserta didik. Pendidik menjadi Tuhan di dalam dunia persekolahan, dia yang menentukan apa yang baik dan buruk, dan peserta didik sebagai mesin penerima dan berpikir sebatas kerangka yang telah diberikan. Lantas di mana letak pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia? Manusia kemudian hanya menjadi mesin penerima. Hal ini mungkin terjadi karena telah tidak disadari bahwa tujuan pendidikan telah bergeser, yaitu tujuan pragmatis secara finansial. Humanisasi melalui pendidikan telah ditumpulkan dengan tujuan di luar humanisasi manusia itu sendiri.

*Penulis adalah mahasiswa Filsafat Angkatan 2008
*Juara 1 Debat Indonesia OIM FIB UI 2010, Filsafat Tim A
Sumber gambar http://pendidikan-myschool.blogspot.com

Manusia adalah Manusia


Manusia adalah Manusia
[Richard Losando]*


Manusia jelas bukan binatang.
Akan tetapi, mengapa manusia membutuhkan pendidikan?.

 Manusia dan binatang jika dibandingkan jelas sangat berbeda kelasnya. Namun yang menarik (jika dilihat pada saat manusia dan binatang lahir) binatang lebih unggul dibandingkan manusia. Binatang secara naluri intuitif sudah mampu mengenal kondisi lingkungannya. Bahkan jika dipaksakan, binatang mampu bertahan hidup secara mandiri dengan kapasitas hewaninya. Manusia jelas (pada posisi ini) ketinggalan sangat jauh. Manusia tidak memiliki kemampuan yang setara bahkan mendekati kemampuan naluri intuitif yang bersifat alamiah yang dimiliki oleh binatang. Manusia pada masa "bayi" membutuhkan sosok manusia dewasanya -entah orang tua atau siapapun itu- agar eksistensi hidupnya dapat berlangsung. Jelas, pada posisi ini manusia sangat rendah dibandingkan binatang.
Namun yang membuat manusia lebih superior dibandingkan binatang adanya posisi lanjutan setelah melewati fase "lemah" ini. Namun yang menarik agar manusia dapat "naik pangkat" dari binatang, manusia membutuhkan pendidikan. Tanpa pendidikan manusia tidak dapat menyamai kemampuan minimal binatang yang bersifat instingtif naluriah. Melalui pendidikan manusia -meski pendidikan yang paling rendah sekalipun, misalnya pendidikan dari keluarga primer dalam hal mengajarkan berbicara, berjalan, dan berlari-  dapat memanusiakan dirinya sehingga dia lebih berharga dibandingkan penghuni eksistensi kehidupan lainnya. 
Jadi, pendidikan adalah pen-DIDI(k)-an. Bagi manusia, pendidikan berfungsi untuk membuat Didi menjadi manusia yang seutuhnya, bukan manusia-manusiaan.

*Penulis Adalah Mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia Angkatan 2007

Industrialisasi Pendidikan


Industrialisasi Pendidikan
(M. Dian Hikmawan)*

           
Kata “pendidikan” telah demikian jauh dari makna awalnya untuk mencerdaskan kehidupan manusia atau proses memanusiakan manusia yang diselenggarakan melalui proses pendidikan. Pergeseran makna yang terjadi pada kata “pendidikan” ini melampaui bentuknya yang verbal dengan pelbagai cara dan di dalamnya tercakup hal-hal lain dalam dunia lisan bukan bahasa dan ini bisa menjadi semainon[1]. Hal ini tak lain disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang terjadi dalam perkembangan pendidikan itu sendiri sehingga dapat merubah makna pendidikan. Pendidikan yang terjadi sekarang tak lebih dari pemenuhan atas produk-produk kaum kapitalis dimana seseorang dipersiapkan demi memenuhi kepentingan mereka para kaum kapitalis. Salah satu dari perubahan makna tersebut terjadi dengan adanya komersialisasi pendidikan, pendidikan yang seharusnya menjadi cara atau proses mencerdaskan atau memanusiakan manusia berubah menjadi pemenuhan kebutuhan industrialisasi-industrialisasi yang tak lain produk dari para kaum kapitalis.
            Komersialisasi dan industrialisasi pendidikan membuat manusia tak berfikir jauh lagi mengenai apa makna yang sebenarnya dari pendidikan dan hanya membuat pergesaran makna dari kata pendidikan. Saat ini orang-orang lebih berfikir bagaimana caranya mengenyam pendidikan dengan memilih apa yang sedang dibutuhkan dalam dunia industri sekarang. Contohnya saja realitas ini terdapat pada banyak calon mahasiswa  yang ingin melanjutkan pendidikannya ke Universitas. Mereka berbondong-bondong akan memilih jurusan-jurusan tertentu yang sedang dibutuhkan oleh dunia industrialisasi saat ini tanpa berfikir apa sebenarnya yang ingin mereka pelajari dan dapatkan dari pendidikan tersebut. Ketergantungan-ketergantungan pada situasi (depend on condition) ini membuat seseorang semakin jauh dari apa yang mereka ingin dapatkan dan harapkan terhadap pendidikan itu sendiri. Ketergantungan ini membuat mereka yang memiliki kemampuan lebih dalam di bidang akademik mau tak mau berubah menjadi budak-budak dari kaum kapitalis demi memenuhi kebutuhan industialisasi yang ada, dan hal ini semakin menguatkan bahwa pendidikan sekarang tak lebih dari budak kapitalisme (education is slave of capitalism).
            Realitas seperti inilah yang terjadi sekarang di bangsa ini, pendidikan budak dari kapitalisme (education is slave of capitalism) menjadikan hasil yang didapatkan dari proses pendidikan pun tak lebih dari mereka-mereka yang memiliki moral budak (slave morality) seperti apa yang sering di dengung-dengungkan oleh Nietzsche. 

www.matanews.com


[1] Bahasa yang mengartikulasikan dirinya sendiri dalam suatu tata cara yang tidak verbal

                       

                       


*Penulis adalah mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia Angkatan 2009





Pendidikan adalah Katastrofi Peradaban


Pendidikan adalah Katastrofi Peradaban
[Adityo Anggoro Saragih]*

2 Mei menjadi tanggal yang tidak biasa bagi kita. Ia berbeda dikarenakan pada tanggal tersebut kita merayakan satu event tentang pendidikan. Bagaimana cara kita merayakannya menjadi pertanyaan kita bersama. Apakah dengan demonstrasi dan menuntut biaya pendidikan yang murah? Dengan mengevaluasi ‘pendidikan’? Atau dengan berpesta pora karena pendidikan kita telah berhasil dengan melahirkan orang-orang seperti Habibie ataupun Gus Dur? Cara yang paling tepat untuk merayakannya adalah dengan mengevaluasi ‘pendidikan’ itu sendiri.
‘Pendidikan’ selama ini kita maknai sebagai sebuah proses mendapatkan pengetahuan. Hal ini juga didukung oleh Aristoteles yang menempatkan disposisi bahwa manusia memiliki hasrat untuk mengetahui segala sesuatu. Proses mengetahui tersebut didukung oleh kemampuan akal sehingga kita bisa mengetahui segala sesuatu dan membedakan sesuatu. (E. Cassirer, Essay on Man, Yale: Yale University,1976, 2). Sayangnya kita tidak memaknai hal tersebut sebagai sesuatu yang politis. Asumsi kita selama ini mengafiliasikan ‘politis’ hanya dengan partai politik, iklan politik, pemilu, propaganda. Padahal politis tidak hanya sebatas itu saja. Oleh karena itu saya mencoba menafsirkan pendidikan secara politis, yang kemudian akan memiliki konsekuensi bagi peradaban.
Karl Marx telah menjelaskan bahwa terdapat antagonisme kelas dalam masyarakat. Antagonisme ini disebabkan adanya kepemilikan alat produksi serta menjadi penopang kehidupan manusia, namun terdapat kelompok yang tidak memiliki hal tersebut sehingga untuk mendapatkan kebutuhan mau tidak mau kelompok tersebut harus bekerja pada kaum borjuis. Hal yang menjadi penting adalah Marx memberikan pemahaman penting atas Ideology, artinya dalam antagonisme tersebut kaum borjuis melakukan pertahanan untuk kelanggengan kekuasaanya dengan cara memberikan ‘kesadaran palsu’, bukan kehidupan yang menentukan kesadaran akan tetapi kesadaran yang menentukan kehidupan. (David McLellan, Karl Marx Selected Writings, Oxford : Oxford University, 1977, 164). ‘Kesadaran’ yang di bentuk adalah sebuah kesadaran palsu, sebagai contoh agama mengajarkan kesabaran sehingga eksploitasi kaum borjuis tetap langgeng tanpa mendapatkan perlawanan, dan pendidikan hanya membentuk manusia sebagai asset untuk melayani kepentingan kaum kapitalis
Louis Althusser melanjutkan analisis yang telah diberikan oleh Marx terutama ideologi serta implikasinya terhadap Pendidikan. Pendidikan dalam perspektif Althusser dibangun secara lebih spesifik. Ia melakukan pembatasan bahwa pendidikan adalah sekolah dan yang diajarkan di sekolah tidak lebih dari bagaimana berperilaku ‘baik’, memerintah dengan seharusnya, berbicara ‘kepada mereka’ dengan cara yang baik.(Louis Althusser, Tentang Ideologi (Yogyakarta : Jalasutra, 2006, 9). Jadi Pendidikan hanya sebagai perangkat praktis dan perangkat tersebut berguna bagi kelas yang berkuasa. Lebih radikal lagi, kita dapat menafsirkan metode Althusser bahwa pendidikan hanya melahirkan para budak bukan para pencipta.
Konsep ‘kekuasaan’ dalam pendidikan ini juga dibahas oleh Edward Said. Ia melihat bahwa Orientalisme sebagai gaya berfikir yang dilandasi adanya pembagian barat dan timur, muncul dalam tradisi akademis. Implikasinya menurut Said, bahwa Barat memiliki otoritas yang lebih daripada Timur (Bill Aschroft, Gareth Grifiths, Helen Tifin, Post Colonial Studies Reader, New York: Routledge,1995. Orientalism Edward Said,88). Dampak nyatanya adalah adanya penjajahan yang di lakukan Barat terhadap Negara jajahannya, India, dengan alasan bahwa Barat memiliki kelebihan dan timur tidak, maka Timur akan kami beri sesuatu yang ‘lebih’.
Jadi baik Marx, Althusser, Edward Said melihat bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang politis. Marx melihat kepentingan borjuis untuk memberikan kesadaran, dan perangkatnya adalah pendidikan melalui derivasi moral, hukum, agama. Althusser melihat pendidikan layaknya sebuah pabrik, dan Said melihat pendidikan sebagai perpanjangan tangan kepentingan Barat. Semua hal tersebut memberikan penjalasan bahwa pendidikan adalah katastrofi peradaban. Ia gagal memberikan preskripsi akan peradaban melainkan Ia menjadi perusak peradaban dengan cara menguasai, mendominasi, dan membentuk orang-orang yang setia pada sistem yang telah dikuasai. Hal tersebut menjadi konsekuensi dari ‘pendidikan’ sehingga kita tidak melihat pendidikan sebagai sesuatu yang politis lagi.

*Penulis Adalah Mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia Angkatan 2007
  Ketua Angkatan Filsafat 2007

Keajaiban Negeri Yunani


Keajaiban Negeri Yunani
(Abdul Rahman)*

            Perhatikan beberapa saat dengan seksama dari judul artikel di atas. Sudah tentu apa yang diperhatikan itu membuat pikiran Anda menjadi penasaran dan terus bertanya-tanya: Apakah di negeri Yunani telah terjadi peristiwa keajaiban seperti dalam cerita-cerita dongeng? Apakah orang Yunani sangat pandai untuk melakukan hal-hal mitis? Apakah yang sebenarnya terjadi di negeri Yunani? Atau apakah ada Dewa yang benar-benar turun dan memberikan keajaiban pada negeri Yunani?. Tentu! Pandangan berpikir Anda akan keliru, jika Anda memaksudkan kata “keajaiban” tersebut dengan hal-hal yang bernuansa khayal dan magis. Lalu apa yang menjadi dasar dari peristiwa keajaiban itu.
Mungkin beberapa dari Anda ada yang sudah pernah bersentuhan dengan buku-buku tentang filsafat, khususnya tentang Sejarah filsafat Yunani. Tahukah Anda bahwa pada awalnya filsafat turun ke dunia melalui pemikir-pemikir berbakat sepanjang zaman yang tak lain adalah para filsuf Yunani? Filsafat sendiri turun ke dunia karena adanya pergeseran mitos menjadi logos[1]. Hal itulah yang dijadikan tanda peristiwa keajaiban dari Negeri Yunani.
Seperti pepatah “tak semudah membalikan telapak tangan”, kira-kira begitulah nasib filsafat dalam penjajakannya yang pertama turun ke dunia “tak mudah untuk merubah mitos menjadi logos”. Mitos adalah kepercayaan sedangkan logos adalah akal, inilah dua konsep penting yang harus kita pahami[2]. Pada saat itu hampir seluruh manusia di bumi ini menjawab berbagai permasalahan tentang asal usul alam semesta maupun permasalahan tentang kejadian alam[3] menggunakan beragam mitos. Sebagai contoh mereka menganggap bahwa cairan lahar panas akibat letusan gunung berapi adalah air mata Dewa yang sedang murka terhadap mereka. Mungkin bagi telinga kita yang hidup di zaman pasca modern hal ini sangatlah menggelikan, tetapi itu adalah sebuah fakta.
Berawal dari jawaban yang tidak memuaskan seperti itu, akhirnya orang-orang Yunani mencoba untuk menyusun hipotesis yang lebih ilmiah dan sistematis dalam memberikan jawaban yang dapat diterima oleh akal sehat kita[4], sebagai contoh pada awalnya mereka menganggap pelangi adalah jembatan bagi Dewi-Dewi yang ingin mandi tetapi lambat laun mereka mulai menganggap bahwa pelangi adalah sebuah awan. Seiring berjalannya waktu, akhirnya orang-orang Yunani lebih mengutamakan alur pemikiran logis dan sistematis dibandingkan harus mempercayai sesuatu hal yang bersifat dogmatis dan tidak masuk akal.
Kita telah mengetahui bahwa kemudian orang-orang Yunani meraih kesuksesan besar dalam menemukan ilmu pengetahuan, tetapi hal itu tidaklah lengkap jika kita mengabaikan pengaruh ilmu pengetahuan yang berasal dari negeri tetangganya. Pengaruh yang didapatkan oleh bangsa Yunani masing-masing adalah astronomi dari Mesopotamia[5] dan geometri dari Mesir. Anda pun pasti akan bertanya-tanya lagi, kenapa bukan Mesopotamia atau Mesir atau bahkan keduanya sebagai tempat pertama kali filsafat turun ke dunia? Tentu tidaklah bijaksana kalau kita mengatakan hal itu. Karena bagaimanapun sejarah telah mengatakan bahwa orang-orang Yunani yang pertama kali mengolah pengetahuan secara sistematis, sehingga pengetahuan itu menjadi sebuah corak ilmu yang benar-benar ilmiah.


[1] Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar.
[2] Prof. Dr. K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani.
[3] Tentang asal usul alam semesta disebut mitos kosmogonis, tentang kejadian alam disebut mitos kosmologis.
[4] Betrand Russel, History of Western Philosophy.
[5] Tepatnya Kerajaan Babilonia yang berada dalam wilayah Mesopotamia.


*Penulisa adalah mahasiswa Filsafat UI angkatan 09