Keajaiban
Negeri Yunani
(Abdul Rahman)*
Perhatikan beberapa saat dengan seksama
dari judul artikel di atas. Sudah tentu apa
yang diperhatikan itu membuat pikiran Anda menjadi penasaran dan terus
bertanya-tanya: Apakah di negeri Yunani telah terjadi peristiwa keajaiban
seperti dalam cerita-cerita dongeng? Apakah orang Yunani sangat pandai untuk
melakukan hal-hal mitis? Apakah yang sebenarnya terjadi di negeri Yunani? Atau
apakah ada Dewa yang benar-benar turun dan memberikan keajaiban pada negeri
Yunani?. Tentu! Pandangan
berpikir Anda akan keliru, jika Anda memaksudkan kata “keajaiban” tersebut
dengan hal-hal yang bernuansa khayal dan magis. Lalu apa yang menjadi dasar
dari peristiwa keajaiban itu.
Mungkin
beberapa dari Anda ada yang sudah pernah bersentuhan dengan buku-buku tentang
filsafat, khususnya tentang Sejarah filsafat
Yunani. Tahukah Anda bahwa pada awalnya filsafat turun ke dunia
melalui pemikir-pemikir berbakat sepanjang zaman yang tak
lain adalah para filsuf Yunani? Filsafat sendiri turun ke dunia karena adanya
pergeseran mitos menjadi logos[1].
Hal itulah yang dijadikan tanda peristiwa keajaiban dari Negeri Yunani.
Seperti
pepatah “tak semudah membalikan telapak
tangan”,
kira-kira begitulah nasib filsafat dalam penjajakannya yang pertama turun ke
dunia “tak mudah untuk merubah mitos
menjadi logos”. Mitos adalah kepercayaan sedangkan logos adalah akal,
inilah dua konsep penting yang harus kita pahami[2].
Pada saat itu hampir seluruh manusia di bumi ini menjawab berbagai permasalahan
tentang asal usul alam semesta maupun permasalahan tentang kejadian alam[3] menggunakan beragam mitos.
Sebagai contoh mereka menganggap bahwa
cairan lahar panas akibat letusan gunung berapi adalah air mata Dewa yang
sedang murka terhadap mereka. Mungkin bagi telinga kita yang hidup di zaman
pasca modern hal ini sangatlah menggelikan, tetapi itu adalah sebuah fakta.
Berawal
dari jawaban yang tidak memuaskan seperti itu, akhirnya orang-orang Yunani
mencoba untuk menyusun hipotesis yang lebih ilmiah dan sistematis dalam memberikan
jawaban yang dapat diterima oleh akal sehat kita[4],
sebagai contoh pada awalnya mereka menganggap pelangi adalah jembatan bagi
Dewi-Dewi yang ingin mandi tetapi lambat laun mereka mulai menganggap bahwa
pelangi adalah sebuah awan. Seiring berjalannya waktu, akhirnya orang-orang
Yunani lebih mengutamakan alur pemikiran logis dan sistematis dibandingkan
harus mempercayai sesuatu hal yang bersifat dogmatis dan tidak masuk akal.
Kita
telah mengetahui bahwa kemudian orang-orang Yunani meraih kesuksesan besar
dalam menemukan ilmu pengetahuan, tetapi hal itu tidaklah lengkap jika kita
mengabaikan pengaruh ilmu pengetahuan yang berasal dari negeri tetangganya.
Pengaruh yang didapatkan oleh bangsa Yunani masing-masing adalah astronomi dari
Mesopotamia[5]
dan geometri dari Mesir. Anda pun pasti akan bertanya-tanya lagi, kenapa bukan Mesopotamia atau Mesir atau bahkan
keduanya sebagai tempat pertama kali filsafat turun ke dunia? Tentu tidaklah
bijaksana kalau kita mengatakan hal itu. Karena bagaimanapun sejarah telah
mengatakan bahwa orang-orang Yunani yang pertama kali mengolah pengetahuan
secara sistematis, sehingga pengetahuan itu menjadi sebuah corak ilmu yang
benar-benar ilmiah.
[2] Prof. Dr. K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani.
[3] Tentang asal usul alam semesta disebut mitos kosmogonis, tentang
kejadian alam disebut mitos kosmologis.
[4] Betrand Russel, History of Western Philosophy.
[5] Tepatnya Kerajaan Babilonia yang berada dalam wilayah Mesopotamia.
*Penulisa adalah mahasiswa Filsafat UI angkatan 09
*Penulisa adalah mahasiswa Filsafat UI angkatan 09

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik
-Humas Media KOMAFIL FIB UI-