Home

Sabtu, 04 September 2010

Keajaiban Negeri Yunani


Keajaiban Negeri Yunani
(Abdul Rahman)*

            Perhatikan beberapa saat dengan seksama dari judul artikel di atas. Sudah tentu apa yang diperhatikan itu membuat pikiran Anda menjadi penasaran dan terus bertanya-tanya: Apakah di negeri Yunani telah terjadi peristiwa keajaiban seperti dalam cerita-cerita dongeng? Apakah orang Yunani sangat pandai untuk melakukan hal-hal mitis? Apakah yang sebenarnya terjadi di negeri Yunani? Atau apakah ada Dewa yang benar-benar turun dan memberikan keajaiban pada negeri Yunani?. Tentu! Pandangan berpikir Anda akan keliru, jika Anda memaksudkan kata “keajaiban” tersebut dengan hal-hal yang bernuansa khayal dan magis. Lalu apa yang menjadi dasar dari peristiwa keajaiban itu.
Mungkin beberapa dari Anda ada yang sudah pernah bersentuhan dengan buku-buku tentang filsafat, khususnya tentang Sejarah filsafat Yunani. Tahukah Anda bahwa pada awalnya filsafat turun ke dunia melalui pemikir-pemikir berbakat sepanjang zaman yang tak lain adalah para filsuf Yunani? Filsafat sendiri turun ke dunia karena adanya pergeseran mitos menjadi logos[1]. Hal itulah yang dijadikan tanda peristiwa keajaiban dari Negeri Yunani.
Seperti pepatah “tak semudah membalikan telapak tangan”, kira-kira begitulah nasib filsafat dalam penjajakannya yang pertama turun ke dunia “tak mudah untuk merubah mitos menjadi logos”. Mitos adalah kepercayaan sedangkan logos adalah akal, inilah dua konsep penting yang harus kita pahami[2]. Pada saat itu hampir seluruh manusia di bumi ini menjawab berbagai permasalahan tentang asal usul alam semesta maupun permasalahan tentang kejadian alam[3] menggunakan beragam mitos. Sebagai contoh mereka menganggap bahwa cairan lahar panas akibat letusan gunung berapi adalah air mata Dewa yang sedang murka terhadap mereka. Mungkin bagi telinga kita yang hidup di zaman pasca modern hal ini sangatlah menggelikan, tetapi itu adalah sebuah fakta.
Berawal dari jawaban yang tidak memuaskan seperti itu, akhirnya orang-orang Yunani mencoba untuk menyusun hipotesis yang lebih ilmiah dan sistematis dalam memberikan jawaban yang dapat diterima oleh akal sehat kita[4], sebagai contoh pada awalnya mereka menganggap pelangi adalah jembatan bagi Dewi-Dewi yang ingin mandi tetapi lambat laun mereka mulai menganggap bahwa pelangi adalah sebuah awan. Seiring berjalannya waktu, akhirnya orang-orang Yunani lebih mengutamakan alur pemikiran logis dan sistematis dibandingkan harus mempercayai sesuatu hal yang bersifat dogmatis dan tidak masuk akal.
Kita telah mengetahui bahwa kemudian orang-orang Yunani meraih kesuksesan besar dalam menemukan ilmu pengetahuan, tetapi hal itu tidaklah lengkap jika kita mengabaikan pengaruh ilmu pengetahuan yang berasal dari negeri tetangganya. Pengaruh yang didapatkan oleh bangsa Yunani masing-masing adalah astronomi dari Mesopotamia[5] dan geometri dari Mesir. Anda pun pasti akan bertanya-tanya lagi, kenapa bukan Mesopotamia atau Mesir atau bahkan keduanya sebagai tempat pertama kali filsafat turun ke dunia? Tentu tidaklah bijaksana kalau kita mengatakan hal itu. Karena bagaimanapun sejarah telah mengatakan bahwa orang-orang Yunani yang pertama kali mengolah pengetahuan secara sistematis, sehingga pengetahuan itu menjadi sebuah corak ilmu yang benar-benar ilmiah.


[1] Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar.
[2] Prof. Dr. K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani.
[3] Tentang asal usul alam semesta disebut mitos kosmogonis, tentang kejadian alam disebut mitos kosmologis.
[4] Betrand Russel, History of Western Philosophy.
[5] Tepatnya Kerajaan Babilonia yang berada dalam wilayah Mesopotamia.


*Penulisa adalah mahasiswa Filsafat UI angkatan 09

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik

-Humas Media KOMAFIL FIB UI-