Home

Minggu, 05 September 2010

Puisi: kamu adalah satu-satunya alasan kenapa saya tidak bisa mencintai yang lain


Kamu... adalah satu-satunya alasan kenapa saya
tidak bisa mencintai yang lain




Pinta yang merajut kepingan kasih dalam kisaran hati terhentikan asa
Menatap raga yang mendekat dalam tuai tabir pemakna rasa
Terhabiskan masa...
Terhentikan ucap nadir menutup terpa rasa yang terberikan
Bungkam mata sadarkan rasa dalam bersit pilu terdahulu
Teringat kata yang terpatahkan janji melingkar dalam sukma terdalam jiwa
Mengalun tenang dalam symfoni alam raya mahadewa
Tebar rasa terjalin hasrat
Menuang percik kasih yang terhantarkan.
Angkasa menghentak...
Dawai langkah menghadang denyut terhimpit kelam peristiwa
Kamu... adalah satu-satunya alasan kenapa saya tidak bisa mencintai yang lain.
Tidak lagi mampu menyulam kasih dalam makna menggurat kisah
Bersimpuh dalam raga terpatrikan penyesalan yang mendera rentan sinar memadu.
Saya menatap kamu yang terhantarkan kasih lain menepi,,,
Menghilang dalam riak pergolakkan asa yang menjadikannya lelaki berkasih
... saya, melebur dalam jantung terjal pijak bumi memadai
... saya, terhempaskan nyata dalam sukma lirih terpilukan isak hampaan batin.
... saya, tidak terisikan dalam kosong yang memudar milik alunan sang penjaga hati.
... saya, ingin tetap menyimpan kamu dalam sudut kecil teristimewakan kisah miliknya,,,
Tinta yang tergoreskan itu enggan terisikan
Habis dalam jelaga penantian yang tidak terhantarkan
Saya mencintai kamu dalam rasa yang tidak terkatakan...
Teriring ragu yang mendera asa, melemahkan kata yang enggan teralirkan.
Menguap tabir penelaah sendu milik langit senja yang menepi.
Ketika hanya kosong yang menyulam hari, menjalin pelan dalam pandang tidak tertuju.
Ketika itu pula hembusan terbisik hantar aliran angin malam mendewasakan...
Tapi saya masih ingin menatapnya dalam jelaga tidak terisikan...
Meski kosong menjelma dalam separuh bentuk keping terhasrati penyesalan.


Tika Sylvia Utami (Filsafat 07)

www.tikasylviautami.blogspot.com

Puisi: Absurd


Bukankah kita sama-sama telah terbiasa.
Memandangi putihnya pinggiran malam serta pagi yang pekat ketika matahari mulai dikejar temaram.
Lelah atas jawaban  yang menyapa kita kala masih ada waktu sedikit saja untuk menghabiskan sarapan di meja.
Tiap hari kita dipaksa melihat penuh abu-abu tua benar dan salah yang bergelayut dikepala hingga ke otak.
Banyak hidup dan mati yang teronggok di belakang lemari pakaian kita karena lupa mencucinya ketika hendak terbang ke bawah.
Ah, sudah. saya hanya ingin tidur saat ini.  Menghilangkan dunia sejenak untuk berpikir resah.
Bukankah kita sama-sama telah terbiasa.

Hery Dwi Prasetyo –Filsafat 07-



Aku hanya seorang pandir yang mati setengah*

Aku hanya seorang pandir yang mati setengah....
Aku terdampar di satu galeri. Hanya ada satu lukisan di depan muka, - jarak yang terlalu dekat - , berjudul "WAJAH". Ada-ada saja kupikir, dari sedekat ini yang kulihat hanya torehan cat aneka warna, analogus yang terlalu berantakan, terlalu banyak garis, terlampau sesak bentuk. Terlalu rancu untuk diberi judul "WAJAH", biarlah, itupun hanya 'penamaan' saja. Mungkin pelukisnya seorang surealis.

Sudahlah.

Galeri ini menjemukan sekali. Tapi di luar hujan bagai jeruji, menjebak. Aku lari saja..... Sekelilingku berubah, tanah yang ku injak menjadi lintasan. Namun, hanya aku yang berlari.

Berlari.....
Lintasan tiba-tiba penuh alat kelamin dan kepala-kepala yang tergeletak tak bertubuh. Belum sempat terperangah, kabut menyamarkan semua. Beribu kepala itu tersenyum, mata mereka bolong; aneka kelamin berdiri, membentuk pasukan dengan para kepala buntung. Mengejarku!

Aku terus berlari. Hujan menjarum, menusuk mata, menembus dada. Kurasakan aspal berubah jadi lautan pasir, kakiku basah. Berlari memecah pantai. Mata dan dada ini berdarah. Kurasakan air memenuhi tubuh sampai ubun-ubun.
Aku tenggelam,
belum mati.

Dari jauh aku melihat sebuah benda persegi di ujung sana. Warna air dan merah pekat mengaburkan pandangan. Samar kulihat lukisan "WAJAH" sesaat lalu. Baru kusadari itu memang "WAJAH", dari jarak sejauh ini, di dalam ketenggelaman.....

*Aprilia Ramadhina –Filsafat 07-



Musafir kehidupan : Sebuah pendidikan mencari makna hidup dalam kekelaman.


           Musafir kehidupan : Sebuah pendidikan
           mencari makna hidup dalam kekelaman.
                           Oleh: Richard Losando*


Ini adalah sebuah cerita mengenai perjalanan memperoleh makna kehidupan. Ada seorang manusia yang terlahir dan tumbuh besar dalam kemewahan. Hidup bahagia dan tak pernah melihat dan merasakan kesengsaraan hidup. telah berkeluarga, ketika anaknya lahir dia bertanya, "anak ini berasal dari mana? apakah ada kehidupan sebelum kehidupan?" dia berpikir namun tak berhasil menemukannya.
Namun tak bisa dipungkiri hidup itu memang misteri, keluarganya dan kebahagiaannya lenyap. Keluarga meninggal karena kecelakaan dan hartanya habis terbakar. lantas apa yang tersisa? hanya sebuah pertanyaan "mengapa hidupku begini?" dan dia berusaha menabahkan dirinya. "apakah ada kehidupan setelah kematian?"
Inilah awal dari perjalanan panjang mencari makna hidup. Pencarian kepuasan tertinggi atas misteri kehidupan. menjadi musafir menjadi pilihan logis untuk menjawab "kedua pertanyaan" yang tersimpan dan bergulat atas pencarian jawaban.
Dia memutuskan bertanya kepada suatu ahli agama, “apakah ada kehidupan sebelum kehidupan?". Sang ahli agama menjawab, "Tuhan menciptakan manusia, manusia berasal dari-Nya, jadi kehidupan sebelum kehidupan hanya ada pada Tuhan”. Dia merasa tak puas dengan jawaban tersebut dan belum sempat dia menanyakan pertanyaan kedua kepada ahli agama, lalu ia pergi dan kembali mencari jawaban ketempat lain.
Lalu bertemulah dia kepada seorang ahli spiritual, dan menanyakan kembali pertanyaan pertama, "apakah ada kehidupan sebelum kehidupan guru?" lalu sang ahli spiritual menjawab "apakah engkau sekarang merasa hidup?". “Saya rasa sekarang ini saya hidup”. kata ahli spiritual "saat ini saya tidak tahu apakah saya menjalani kematian atau bergulat dalam kehidupan, jadi saya tidak bisa menjawab pertanyaanmu". Lalu manusia ini pergi kembali mencari jawaban.
Sampailah kepada seorang ahli filsafat. Ahli makna hidup yang senantiasa merenungkan kehidupan. "apakah ada kehidupan sebelum kehidupan?" dan "apakah ada kehidupan setelah kematian?". Lalu sang ahli filsafat menjawab, "jika engkau mampu menghitung jumlah rambut-mu dan mengetahui jumlah pasir dipantai, engkau akan menemukan jawaban atas pertanyaanmu". Lalu dia bingung dan menjawab, "saya rasa saya tak akan bisa menghitung jumlah rambutku dan mengetahui secara pasti jumlah pasir di pantai". Jawab sang ahli filsafat, "artinya anda telah menemukan jawaban atas pertanyaan anda sendiri". Dia tak mengerti atas perkataan ahli filsafat tadi.
Ia pun meneruskan perjalanannya demi mencapai sebuah pemaknaan hidup yang tidak terjawab. Ia mendalami filsafat untuk terus mencari kebijaksanaan serta mencari jawaban yang tidak pasti akan segala ketidakpastian di muka bumi ini. Ia kembali meragukan segala hal dalam proses pencarian, begitu juga filsafat.

*Penulis adalah mahasiswa Filsafat angkatan 07
Sumber foto lifeandmakelife.multiply.com



Sabtu, 04 September 2010

Di mana Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?


Di mana Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?
(Adam Azano)*



“Umar Bakri Umar Bakri
Pegawai negeri
Umar Bakri Umar Bakri
Empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati”

            Kenapa kita harus percaya bumi itu berbentuk bola, Pelangi terbentuk karena pembiasan cahaya, dan lain sebagainya? Padahal kita belum pernah mengamati secara langsung, hanya dari buku. Jawaban yang didapatkan serinngkali tidak memuaskan, yakni “Di buku sudah tertulis begitu, jadi percaya saja.”
            Mungkin buat sebagian orang cerita di atas adalah cerita yang aneh. Untuk apa menanyakan sesuatu yang sudah pasti?. Tapi hal kecil inilah cikal bakal masalah yang buruk bagi sistem pendidikan di Indonesia, karena secara tak langsung guru tersebut mematikan hasrat berfikir kreatif, analisis dan kritis dari manusia karena hanya mengikuti sumber dari buku saja tanpa pengamatan. Di dalam pendidikan negeri kita pada akhirnya terciptalah mental robot dan pekerja yang hanya bisa mengetahui menggunakan suatu teori dari buku, tapi tak berbakat menciptakan inovasi baru.
            Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Pendidikan bermakna proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Definisi yang terdapat dalam Kamus tersebut hanya menjadi kata-kata belaka. Ketika peran pengajar hanya mentransfer ilmu saja pada muridnya. Inilah yang harus dirubah, yakni melatih muridnya menjadi dewasa, tidak hanya kecakapan di bidang keilmuan, tetapi juga mentalitas haus akan ilmu, dan melatih proses kedewasaan muridnya.
            Pemaparan selanjutnya mengenai bagaimana pendidikan Indonesia yang selama ini hanya membuat manusia menjadi penghapal rumus yang handal, menjadi manusia yang mempunyai kemampuan kreatif, kritis, dan haus akan ilmu pengetahuan dengan menitikberatkan pendidik sebagai peranan yang aktif, dan yang paling utama melatih mentalitas pengabdian yang jarang dimiliki guru sekarang.
            Memang banyak guru yang mengajarkan ilmunya, tetapi tidak banyak yang mampu melatih daya nalar, analisis, kritis, dan mempertahankan rasa ingin tahu muridnya. Saat kita masih anak-anak, kehidupan merupakan tempat bermain yang luar biasa menariknya, selalu membuat kita ingin tahu dan bertanya. Tetapi saat seorang anak bertanya terlalu banyak kepada orang dewasa, kebanyakan orang dewasa mendiamkannya atau malah menyuruh anak tersebut untuk jangan banyak bertanya, dan akhirnya  diberi kesempatan ke sekolah, dimana seharusnya dia mampu bertanya sepuasnya. Pada akhirnya guru menjadi harapan bagi seorang manusia untuk tetap mempertahankan rasa keingintahuan tersebut. ironisnya sedikit guru yang mau melatih muridnya menjadi manusia yang mencintai dan haus akan ilmu. Banyak guru lebih menerapkan model sosok yang hanya memberitahukan ilmu tanpa mengajak murid menjadi lebih kritis membahas permasalahan ilmu tersebut atau dengan kata lain bersifat satu arah, bukannya terjadi komunikasi dua arah. Belum lagi jika guru tersebut bersikap hierarkis yaitu jika muridnya yang ingin mengetahui sesuatu harus sang murid yang pergi kepada sang guru tersebut. Apa yang ingin dihasilkan dari guru yang kehilangan sikap ikhlas dalam mendidik?
            Ada sebuah komik Jepang yang menceritakan sosok guru yang berbeda berjudul GTO, di sana sang karakter utama yaitu Eikichi Onizuka, ditampilkan sebagai guru yang benar-benar menjadi sahabat muridnya. Kemampuan Onizuka dalam pendidikan akademis terbilang kurang, tetapi dia mampu memberikan pengajaran yang lebih berharga yaitu menjadi sosok guru yang menyayangi anak muridnya, serta menjadikan sekolah dan pendidikan adalah sesuatu yang menyenangkan, sehingga tanpa disuruhpun murid-muridnya dengan senang hati pergi kesekolah. Berbeda dengan kebiasaan kita dimana sekolah hanya menjadi kewajiban saja.
            Mungkin sudah hilang jiwa Umar Bakrie yang tetap mengabdi walaupun muridnya sudah banyak yang menjadi menteri dan professor, tetapi sang guru tetap setia dengan sepedanya untuk mengajar murid- muridnya. Memang bisa dikatakan miris melihat bagaimana kebanyakan guru melakukan cara pengabdiannya, meski tak sedikit juga yang mengkomersialisasikan ilmu yang dimilikinya. Padahal menjadi guru adalah suatu pengabdian.
Pada akhirnya guru adalah sosok penting tentang bagaimana kelangsungan pendidikan negeri ini. Lalu bagaimana seharusnya citra guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa itu benar-benar dihayati sebagai bentuk pengabdian, dan yang paling utama bagi negeri ini adalah bagaimana seorang guru mampu mengajar dan belajar dari muridnya, seperti perkataan R. Verdi “Good teachers are those who know how little they know. Bad teachers are those who think they know more than they don't know.”

*Penulis adalah mahasiswa Filsafat angkatan 09

Pendidikan : Investasi dan/atau Humanisasi


Pendidikan : Investasi dan/atau Humanisasi
Oleh: Dona Niagara Dinata*

             Mayoritas manusia Indonesia, khususnya kalangan akademisi akan mengatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses atau hal yang penting, dan kata pendidikan di sini merujuk pada pengertian pendidikan dalam arti sempit, yaitu dunia persekolahan. Semua orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik, apa pun caranya. Sebagian besar orang tua dan bahkan pelaku akademis itu sendiri bisa melakukan apa pun untuk mewujudkan keinginannya dalam mengenyam pendidikan yang terbaik. Pendidikan dipandang sebagai salah satu jalan investasi yang paling menentukan kesuksesan seseorang dalam menjalani kehidupan, bahkan mitos dalam dunia akademis bahwa pendidikan (persekolahan) adalah penentu masa depan menjadi semakin kuat. Pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah apa yang menjadi tujuan dari menjalani pendidikan tersebut ?
            Pendidikan telah mengalami pereduksian pemaknaan. Pendidikan (baca : persekolahan) telah menjadi sebuah ladang emas bagi individu yang ingin mendapatkan apa yang mereka anggap sebagai pendidikan, baik dari sisi penyelenggara maupun sebagai peserta didik dan keluarganya. Terjadi pereduksian pemaknaan yang sangat memprihatinkan di sini. Pendidikan dianggap sebagai jalan untuk menuju masa depan yang diiming-imingi dengan kejayaan dalam artian kelimpahan pada bentuk materi. Pendidikan dianggap sebagai sebagai salah satu jalan pembebasan dari keterbelakangan, kemampuan secara finansial ataupun sebagai sarana untuk mempertahankan kekuatan finansial keluarga. Tidak bisa dipungkiri bahwa materi finansial memang hal yang penting terutama dalam mengukur kesejahteraan manusia, namun pemahaman yang melulu dan berorientasi hanya pada titik fokus itu telah men-dehumanisasi manusia. Dan dehumanisasi itu telah mengakar sebagai mitos yang dipercaya sebagian besar kalangan akademisi sebagai tujuan yang harus dicapai.
            Pertanyaan seputar, “kuliah jurusan apa?”, yang kemudian dilanjutkan dengan,“setelah lulus prospek kerjanya di mana?“, adalah pertanyaan yang menggambarkan bagaimana paradigma masyarakat kita dalam menilai pendidikan. Pendidikan hanya dipandang dari segi kebermanfaatan untuk mendapatkan status ekonomi yang lebih layak. Keberhasilan orang menjalani pendidikan adalah profesi apa yang bisa didapat dan seberapa besar bayaran yang didapat dari menjalani profesi itu. Berpikir seperti itu memang tidak bisa disalahkan namun paradigma yang terbangun dari konsep berpikir seperti itulah yang membuat pendidikan menjadi tereduksi ke dalam sebuah proses yang cacat, pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia menjadi tergeser kebelakang dan tertutupi oleh tujuan-tujuan yang lain, dan dominan mengarah kepada tujuan pragmatis.
            Tujuan pendidikan telah bergeser menjadi investasi dalam bidang ekonomi sehingga pendidikan tidak lagi menjadi tempat untuk mengasah kekritisan rasio, tetapi telah ditumpulkan oleh tujuan pragmatis tersebut. Pendidikan yang semestinya untuk meningkatkan pemahaman manusia dan mengasah kepekaannya berubah menjadi pabrik pencipta manusia mekanistis. Manusia yang dianggap memiliki rasio dan akal tidak lebih menjadi manusia yang menerima dan menerapkan saja nilai-nilai yang dianggap benar tanpa bisa memperhatikan nilai itu sendiri, karena dari pendidikan yang dijalani hanya sebagai sebuah jalan dan harus dilalui sebagai prosedur yang wajar dan benar, niat untuk mengkritisi nilai-nilai dan proses pendidikan yang dijalani, pendidikan yang mendidik atau malah merobotisasi, telah berkurang atau malah telah menghilang dari sebagian besar peserta didik. Pendidik menjadi Tuhan di dalam dunia persekolahan, dia yang menentukan apa yang baik dan buruk, dan peserta didik sebagai mesin penerima dan berpikir sebatas kerangka yang telah diberikan. Lantas di mana letak pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia? Manusia kemudian hanya menjadi mesin penerima. Hal ini mungkin terjadi karena telah tidak disadari bahwa tujuan pendidikan telah bergeser, yaitu tujuan pragmatis secara finansial. Humanisasi melalui pendidikan telah ditumpulkan dengan tujuan di luar humanisasi manusia itu sendiri.

*Penulis adalah mahasiswa Filsafat Angkatan 2008
*Juara 1 Debat Indonesia OIM FIB UI 2010, Filsafat Tim A
Sumber gambar http://pendidikan-myschool.blogspot.com

Manusia adalah Manusia


Manusia adalah Manusia
[Richard Losando]*


Manusia jelas bukan binatang.
Akan tetapi, mengapa manusia membutuhkan pendidikan?.

 Manusia dan binatang jika dibandingkan jelas sangat berbeda kelasnya. Namun yang menarik (jika dilihat pada saat manusia dan binatang lahir) binatang lebih unggul dibandingkan manusia. Binatang secara naluri intuitif sudah mampu mengenal kondisi lingkungannya. Bahkan jika dipaksakan, binatang mampu bertahan hidup secara mandiri dengan kapasitas hewaninya. Manusia jelas (pada posisi ini) ketinggalan sangat jauh. Manusia tidak memiliki kemampuan yang setara bahkan mendekati kemampuan naluri intuitif yang bersifat alamiah yang dimiliki oleh binatang. Manusia pada masa "bayi" membutuhkan sosok manusia dewasanya -entah orang tua atau siapapun itu- agar eksistensi hidupnya dapat berlangsung. Jelas, pada posisi ini manusia sangat rendah dibandingkan binatang.
Namun yang membuat manusia lebih superior dibandingkan binatang adanya posisi lanjutan setelah melewati fase "lemah" ini. Namun yang menarik agar manusia dapat "naik pangkat" dari binatang, manusia membutuhkan pendidikan. Tanpa pendidikan manusia tidak dapat menyamai kemampuan minimal binatang yang bersifat instingtif naluriah. Melalui pendidikan manusia -meski pendidikan yang paling rendah sekalipun, misalnya pendidikan dari keluarga primer dalam hal mengajarkan berbicara, berjalan, dan berlari-  dapat memanusiakan dirinya sehingga dia lebih berharga dibandingkan penghuni eksistensi kehidupan lainnya. 
Jadi, pendidikan adalah pen-DIDI(k)-an. Bagi manusia, pendidikan berfungsi untuk membuat Didi menjadi manusia yang seutuhnya, bukan manusia-manusiaan.

*Penulis Adalah Mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia Angkatan 2007

Industrialisasi Pendidikan


Industrialisasi Pendidikan
(M. Dian Hikmawan)*

           
Kata “pendidikan” telah demikian jauh dari makna awalnya untuk mencerdaskan kehidupan manusia atau proses memanusiakan manusia yang diselenggarakan melalui proses pendidikan. Pergeseran makna yang terjadi pada kata “pendidikan” ini melampaui bentuknya yang verbal dengan pelbagai cara dan di dalamnya tercakup hal-hal lain dalam dunia lisan bukan bahasa dan ini bisa menjadi semainon[1]. Hal ini tak lain disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang terjadi dalam perkembangan pendidikan itu sendiri sehingga dapat merubah makna pendidikan. Pendidikan yang terjadi sekarang tak lebih dari pemenuhan atas produk-produk kaum kapitalis dimana seseorang dipersiapkan demi memenuhi kepentingan mereka para kaum kapitalis. Salah satu dari perubahan makna tersebut terjadi dengan adanya komersialisasi pendidikan, pendidikan yang seharusnya menjadi cara atau proses mencerdaskan atau memanusiakan manusia berubah menjadi pemenuhan kebutuhan industrialisasi-industrialisasi yang tak lain produk dari para kaum kapitalis.
            Komersialisasi dan industrialisasi pendidikan membuat manusia tak berfikir jauh lagi mengenai apa makna yang sebenarnya dari pendidikan dan hanya membuat pergesaran makna dari kata pendidikan. Saat ini orang-orang lebih berfikir bagaimana caranya mengenyam pendidikan dengan memilih apa yang sedang dibutuhkan dalam dunia industri sekarang. Contohnya saja realitas ini terdapat pada banyak calon mahasiswa  yang ingin melanjutkan pendidikannya ke Universitas. Mereka berbondong-bondong akan memilih jurusan-jurusan tertentu yang sedang dibutuhkan oleh dunia industrialisasi saat ini tanpa berfikir apa sebenarnya yang ingin mereka pelajari dan dapatkan dari pendidikan tersebut. Ketergantungan-ketergantungan pada situasi (depend on condition) ini membuat seseorang semakin jauh dari apa yang mereka ingin dapatkan dan harapkan terhadap pendidikan itu sendiri. Ketergantungan ini membuat mereka yang memiliki kemampuan lebih dalam di bidang akademik mau tak mau berubah menjadi budak-budak dari kaum kapitalis demi memenuhi kebutuhan industialisasi yang ada, dan hal ini semakin menguatkan bahwa pendidikan sekarang tak lebih dari budak kapitalisme (education is slave of capitalism).
            Realitas seperti inilah yang terjadi sekarang di bangsa ini, pendidikan budak dari kapitalisme (education is slave of capitalism) menjadikan hasil yang didapatkan dari proses pendidikan pun tak lebih dari mereka-mereka yang memiliki moral budak (slave morality) seperti apa yang sering di dengung-dengungkan oleh Nietzsche. 

www.matanews.com


[1] Bahasa yang mengartikulasikan dirinya sendiri dalam suatu tata cara yang tidak verbal

                       

                       


*Penulis adalah mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia Angkatan 2009