Blog yang menjadi wadah dalam mengembangkan tulisan dari mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia yang dikelola oleh biro Humas Media KOMAFIL FIB UI 2010. Viva Homini... Viva Logos... Viva Philosophya
Kamu... adalah
satu-satunya alasan kenapa saya
tidak bisa mencintai yang lain
Pinta yang merajut kepingan kasih dalam kisaran hati terhentikan asa
Menatap raga yang mendekat dalam tuai tabir pemakna rasa
Terhabiskan masa...
Terhentikan ucap nadir menutup terpa rasa yang terberikan
Bungkam mata sadarkan rasa dalam bersit pilu terdahulu
Teringat kata yang terpatahkan janji melingkar dalam sukma terdalam jiwa
Mengalun tenang dalam symfoni alam raya mahadewa
Tebar rasa terjalin hasrat
Menuang percik kasih yang terhantarkan.
Angkasa menghentak...
Dawai langkah menghadang denyut terhimpit kelam peristiwa
Kamu... adalah satu-satunya alasan kenapa saya tidak bisa mencintai yang lain.
Tidak lagi mampu menyulam kasih dalam makna menggurat kisah
Bersimpuh dalam raga terpatrikan penyesalan yang mendera rentan sinar memadu.
Saya menatap kamu yang terhantarkan kasih lain menepi,,,
Menghilang dalam riak pergolakkan asa yang menjadikannya lelaki berkasih
... saya, melebur dalam jantung terjal pijak bumi memadai
... saya, terhempaskan nyata dalam sukma lirih terpilukan isak hampaan batin.
... saya, tidak terisikan dalam kosong yang memudar milik alunan sang penjaga
hati.
... saya, ingin tetap menyimpan kamu dalam sudut kecil teristimewakan kisah
miliknya,,,
Tinta yang tergoreskan itu enggan terisikan
Habis dalam jelaga penantian yang tidak terhantarkan
Saya mencintai kamu dalam rasa yang tidak terkatakan...
Teriring ragu yang mendera asa, melemahkan kata yang enggan teralirkan.
Menguap tabir penelaah sendu milik langit senja yang menepi.
Ketika hanya kosong yang menyulam hari, menjalin pelan dalam pandang tidak
tertuju.
Ketika itu pula hembusan terbisik hantar aliran angin malam mendewasakan...
Tapi saya masih ingin menatapnya dalam jelaga tidak terisikan...
Meski kosong menjelma dalam separuh bentuk keping terhasrati penyesalan.
Tika Sylvia Utami (Filsafat 07)
www.tikasylviautami.blogspot.com
Memandangi
putihnya pinggiran malam serta pagi yang pekat ketika matahari mulai dikejar
temaram.
Lelah atas
jawaban yang menyapa kita kala masih ada waktu sedikit saja untuk
menghabiskan sarapan di meja.
Tiap hari
kita dipaksa melihat penuh abu-abu tua benar dan salah yang bergelayut dikepala
hingga ke otak.
Banyak hidup
dan mati yang teronggok di belakang lemari pakaian kita karena lupa mencucinya
ketika hendak terbang ke bawah.
Ah, sudah.
saya hanya ingin tidur saat ini. Menghilangkan dunia sejenak untuk
berpikir resah.
Bukankah
kita sama-sama telah terbiasa.
Hery Dwi Prasetyo –Filsafat 07-
Aku hanya seorang pandir yang mati
setengah*
Aku hanya seorang pandir yang mati setengah....
Aku terdampar di satu galeri. Hanya ada satu lukisan
di depan muka, - jarak yang terlalu dekat - , berjudul "WAJAH".
Ada-ada saja kupikir, dari sedekat ini yang kulihat hanya torehan cat aneka
warna, analogus yang terlalu berantakan, terlalu banyak garis, terlampau sesak
bentuk. Terlalu rancu untuk diberi judul "WAJAH", biarlah, itupun
hanya 'penamaan' saja. Mungkin pelukisnya seorang surealis.
Sudahlah.
Galeri ini menjemukan sekali. Tapi di luar hujan bagai jeruji, menjebak. Aku
lari saja..... Sekelilingku berubah, tanah yang ku injak menjadi lintasan.
Namun, hanya aku yang berlari.
Berlari.....
Lintasan tiba-tiba penuh alat kelamin dan kepala-kepala yang tergeletak tak
bertubuh. Belum sempat terperangah, kabut menyamarkan semua. Beribu kepala itu
tersenyum, mata mereka bolong; aneka kelamin berdiri, membentuk pasukan dengan
para kepala buntung. Mengejarku!
Aku terus berlari. Hujan menjarum, menusuk mata, menembus dada. Kurasakan aspal
berubah jadi lautan pasir, kakiku basah. Berlari memecah pantai. Mata dan dada
ini berdarah. Kurasakan air memenuhi tubuh sampai ubun-ubun.
Aku tenggelam,
belum mati.
Dari jauh aku melihat sebuah benda persegi di ujung sana. Warna air dan merah
pekat mengaburkan pandangan. Samar kulihat lukisan "WAJAH" sesaat
lalu. Baru kusadari itu memang "WAJAH", dari jarak sejauh ini, di
dalam ketenggelaman.....
Ini adalah sebuah cerita mengenai perjalanan
memperoleh makna kehidupan. Ada seorang manusia yang terlahir dan tumbuh besar
dalam kemewahan. Hidup bahagia dan tak pernah melihat dan merasakan
kesengsaraan hidup. telah berkeluarga, ketika anaknya lahir dia bertanya, "anak ini berasal dari mana? apakah
ada kehidupan sebelum kehidupan?" dia berpikir namun tak berhasil
menemukannya.
Namun tak bisa dipungkiri hidup itu memang misteri,
keluarganya dan kebahagiaannya lenyap. Keluarga meninggal karena kecelakaan dan
hartanya habis terbakar. lantas apa yang tersisa? hanya sebuah pertanyaan "mengapa hidupku begini?" dan
dia berusaha menabahkan dirinya.
"apakah ada kehidupan setelah kematian?"
Inilah awal dari perjalanan panjang mencari makna
hidup. Pencarian kepuasan tertinggi atas misteri kehidupan. menjadi musafir
menjadi pilihan logis untuk menjawab
"kedua pertanyaan" yang tersimpan dan bergulat atas pencarian
jawaban.
Dia memutuskan bertanya kepada suatu ahli agama, “apakah ada kehidupan sebelum
kehidupan?". Sang ahli agama menjawab, "Tuhan menciptakan manusia, manusia berasal dari-Nya, jadi
kehidupan sebelum kehidupan hanya ada pada Tuhan”. Dia merasa tak puas
dengan jawaban tersebut dan belum sempat dia menanyakan pertanyaan kedua kepada
ahli agama, lalu ia pergi dan kembali mencari jawaban ketempat lain.
Lalu bertemulah dia kepada seorang ahli spiritual, dan
menanyakan kembali pertanyaan pertama,
"apakah ada kehidupan sebelum kehidupan guru?" lalu sang ahli
spiritual menjawab "apakah engkau
sekarang merasa hidup?". “Saya
rasa sekarang ini saya hidup”. kata ahli spiritual "saat ini saya tidak tahu apakah saya menjalani kematian atau
bergulat dalam kehidupan, jadi saya tidak bisa menjawab pertanyaanmu".
Lalu manusia ini pergi kembali mencari jawaban.
Sampailah kepada seorang ahli filsafat. Ahli makna
hidup yang senantiasa merenungkan kehidupan. "apakah ada kehidupan sebelum kehidupan?" dan "apakah ada kehidupan setelah
kematian?". Lalu sang ahli filsafat menjawab, "jika engkau mampu menghitung jumlah rambut-mu dan mengetahui
jumlah pasir dipantai, engkau akan menemukan jawaban atas pertanyaanmu". Lalu
dia bingung dan menjawab, "saya rasa
saya tak akan bisa menghitung jumlah rambutku dan mengetahui secara pasti
jumlah pasir di pantai". Jawab sang ahli filsafat, "artinya anda telah menemukan jawaban
atas pertanyaan anda sendiri".Dia
tak mengerti atas perkataan ahli filsafat tadi.
Ia pun meneruskan perjalanannya demi mencapai sebuah
pemaknaan hidup yang tidak terjawab. Ia mendalami filsafat untuk terus mencari
kebijaksanaan serta mencari jawaban yang tidak pasti akan segala ketidakpastian
di muka bumi ini. Ia kembali meragukan segala hal dalam proses pencarian,
begitu juga filsafat.
“Umar
Bakri Umar Bakri
Pegawai negeri
Umar Bakri Umar Bakri
Empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati”
Kenapa
kita harus percaya bumi
itu berbentuk bola, Pelangi terbentuk karena pembiasan cahaya, dan lain
sebagainya?Padahal kita belum
pernah mengamati secara langsung,
hanya dari buku. Jawaban
yang didapatkan
serinngkali tidak
memuaskan, yakni
“Di buku sudah tertulis begitu, jadi percaya saja.”
Mungkin buat sebagian orang cerita di atas adalah cerita
yang aneh. Untuk apa menanyakan sesuatu yang sudah pasti?. Tapi hal kecil inilah
cikal bakal masalah yang buruk bagi sistem pendidikan di Indonesia, karena secara tak
langsung guru tersebut mematikan hasrat berfikir kreatif, analisis dan kritis
dari manusia karena hanya mengikuti sumber dari buku saja tanpa pengamatan. Di dalam pendidikan negeri
kita pada akhirnya terciptalah mental robot dan pekerja yang hanya bisa mengetahui
menggunakan suatu teori dari buku, tapi tak berbakat menciptakan inovasi baru.
Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Pendidikan bermakna proses pengubahan sikap dan tata
laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui
upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.
Definisi yang terdapat
dalam Kamus tersebut hanya menjadi kata-kata belaka. Ketika peran pengajar
hanya mentransfer ilmu saja pada muridnya.Inilah yang harus dirubah, yakni melatih muridnya
menjadi dewasa, tidak hanya kecakapan di bidang keilmuan, tetapi juga
mentalitas haus akan ilmu, dan melatih proses kedewasaan muridnya.
Pemaparan selanjutnya mengenai
bagaimana pendidikan Indonesia yang selama ini hanya membuat manusia menjadi
penghapal rumus yang handal, menjadi manusia yang mempunyai kemampuan kreatif,kritis,dan haus akan ilmu
pengetahuan dengan menitikberatkan pendidik sebagai peranan yang aktif,
dan yang paling utama melatih mentalitas pengabdian yang jarang dimiliki guru
sekarang.
Memang banyak guru yang mengajarkan
ilmunya, tetapi tidak banyak
yang mampu melatih daya nalar, analisis, kritis, dan mempertahankan rasa ingin
tahu muridnya. Saat
kita masih anak-anak,
kehidupan merupakan tempat bermain yang luar biasa menariknya, selalu membuat
kita ingin tahu dan bertanya. Tetapi saat seorang anak bertanya terlalu banyak
kepada orang dewasa,
kebanyakan orang dewasa mendiamkannya atau malah menyuruh anak tersebut untuk
jangan banyak bertanya, dan akhirnya
diberi kesempatan ke sekolah, dimana seharusnya dia mampu bertanya sepuasnya.
Pada akhirnya guru menjadi harapan bagi seorang
manusia untuk tetap mempertahankan
rasa keingintahuan tersebut. ironisnya sedikit
guru yang mau melatih muridnya menjadi manusia yang mencintai dan haus akan
ilmu. Banyak guru lebih menerapkan model sosok yang hanya memberitahukan ilmu
tanpa mengajak murid menjadi lebih kritis membahas permasalahan ilmu tersebut
atau dengan kata lain bersifat satu arah, bukannya terjadi komunikasi dua arah. Belum lagi jika guru tersebut
bersikap hierarkis yaitu jika muridnya yang ingin mengetahui sesuatu harus sang
murid yang pergi kepada sang guru tersebut. Apa yang ingin dihasilkan dari guru
yang kehilangan sikap ikhlas dalam mendidik?
Ada sebuah komik Jepang yang menceritakan
sosok guru yang berbeda berjudul GTO, di sana sang karakter utama yaitu Eikichi
Onizuka, ditampilkan sebagai guru yang benar-benar menjadi sahabat
muridnya.Kemampuan Onizuka dalam
pendidikan akademis terbilang kurang,
tetapi dia mampu memberikan pengajaran yang lebih berharga yaitu menjadi sosok
guru yang menyayangi anak muridnya, serta
menjadikan sekolah dan pendidikan adalah sesuatu yang menyenangkan, sehingga
tanpa disuruhpun murid-muridnya
dengan senang hati pergi kesekolah. Berbeda
dengan kebiasaan kita dimana sekolah hanya menjadi kewajiban saja.
Mungkin sudah hilang jiwa Umar Bakrie
yang tetap mengabdi walaupun muridnya sudah banyak yang menjadi menteri dan professor,
tetapi sang guru tetap setia dengan sepedanya untuk mengajar murid- muridnya. Memang bisa
dikatakan miris melihat bagaimana kebanyakan guru melakukan cara pengabdiannya, meski tak sedikit juga yang mengkomersialisasikan
ilmu yang dimilikinya. Padahal
menjadi guru adalah suatu pengabdian.
Pada
akhirnya guru adalah sosok
penting tentang bagaimana kelangsungan pendidikan negeri ini. Lalu bagaimana
seharusnya citra guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa itu benar-benar dihayati sebagai
bentuk pengabdian, dan yang paling utama bagi negeri ini adalah bagaimana
seorang guru mampu mengajar dan belajar dari muridnya, seperti perkataan R. Verdi “Good
teachers are those who know how little they know. Bad teachers are those who
think they know more than they don't know.”
Mayoritas manusia Indonesia, khususnya
kalangan akademisi akan mengatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses atau
hal yang penting, dan kata pendidikan di sini merujuk pada pengertian
pendidikan dalam arti sempit, yaitu dunia
persekolahan. Semua orang berlomba-lomba
untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik, apa pun caranya. Sebagian besar
orang tua dan bahkan pelaku akademis itu sendiri bisa melakukan apa pun untuk
mewujudkan keinginannya dalam mengenyam
pendidikan yang terbaik. Pendidikan dipandang sebagai salah satu jalan
investasi yang paling menentukan kesuksesan seseorang dalam menjalani
kehidupan, bahkan mitos dalam dunia akademis bahwa pendidikan (persekolahan)
adalah penentu masa depan menjadi semakin kuat. Pertanyaan penting yang perlu
dijawab adalah apa yang menjadi tujuan dari menjalani pendidikan tersebut ?
Pendidikan telah mengalami pereduksian
pemaknaan. Pendidikan (baca : persekolahan) telah menjadi sebuah ladang emas
bagi individu yang ingin mendapatkan apa yang mereka anggap sebagai pendidikan,
baik dari sisi penyelenggara maupun sebagai peserta didik dan keluarganya.
Terjadi pereduksian pemaknaan yang sangat memprihatinkan di sini.Pendidikan dianggap sebagai jalan untuk menuju
masa depan yang diiming-imingi dengan kejayaan dalam artian
kelimpahan pada bentuk materi. Pendidikan dianggap
sebagai sebagai salah satu jalan pembebasan dari keterbelakangan,kemampuan secara finansial ataupun sebagai sarana untuk
mempertahankan kekuatan finansial keluarga. Tidak bisa dipungkiri bahwa materi
finansial memang hal yang penting terutama dalam mengukur kesejahteraan
manusia, namun pemahaman yang melulu dan berorientasi hanya pada titik fokus
itu telah men-dehumanisasi manusia. Dan dehumanisasi itu telah mengakar sebagai
mitos yang dipercaya sebagian besar kalangan akademisi sebagai tujuan yang
harus dicapai.
Pertanyaan seputar, “kuliah jurusan apa?”,yang kemudian dilanjutkan dengan,“setelah lulus prospek kerjanya di mana?“,
adalah pertanyaan yang menggambarkan bagaimana paradigma masyarakat kita dalam
menilai pendidikan. Pendidikan hanya dipandang dari segi kebermanfaatan untuk
mendapatkan status ekonomi yang lebih layak. Keberhasilan orang menjalani
pendidikan adalah profesi apa yang bisa didapat dan seberapa besar bayaran yang
didapat dari menjalani profesi itu. Berpikir seperti itu memang tidak bisa
disalahkan namun paradigma yang terbangun dari konsep berpikir seperti itulah
yang membuat pendidikan menjadi tereduksi
ke dalamsebuah proses yang cacat,
pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia menjadi tergeser kebelakang
dan tertutupi oleh tujuan-tujuan
yang lain, dan dominan mengarah kepada tujuan
pragmatis.
Tujuan pendidikan telah bergeser
menjadi investasi dalam bidang ekonomi sehingga pendidikan tidak lagi menjadi
tempat untuk mengasah kekritisan rasio, tetapi telah ditumpulkan oleh tujuan
pragmatis tersebut. Pendidikan yang semestinya untuk meningkatkan pemahaman
manusia dan mengasah kepekaannya berubah menjadi pabrik pencipta manusia
mekanistis.Manusia yang dianggap memiliki rasio dan
akal tidak lebih menjadi manusia yang menerima dan menerapkan saja nilai-nilai
yang dianggap benar tanpa bisa memperhatikan nilai itu sendiri,
karena dari pendidikan yang dijalani hanya sebagai sebuah jalan dan
harus dilalui sebagai prosedur yang wajar dan benar, niat untuk mengkritisi nilai-nilai
dan proses pendidikan yang dijalani, pendidikan yang mendidik atau malah
merobotisasi, telah berkurang atau malah telah menghilang dari sebagian besar
peserta didik. Pendidik menjadi Tuhan di dalam dunia persekolahan, dia yang
menentukan apa yang baik dan buruk, dan peserta didik sebagai mesin penerima
dan berpikir sebatas kerangka yang telah diberikan. Lantas di mana letak
pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia? Manusia kemudian hanya
menjadi mesin penerima. Hal ini mungkin terjadi karena telah tidak disadari
bahwa tujuan pendidikan telah bergeser, yaitu tujuan pragmatis secara
finansial. Humanisasi melalui pendidikan telah ditumpulkan dengan tujuan di
luar humanisasi manusia itu sendiri.
*Penulis adalah mahasiswa
Filsafat Angkatan 2008
*Juara 1 Debat Indonesia OIM FIB UI
2010, Filsafat Tim A
Sumber gambar http://pendidikan-myschool.blogspot.com
Manusia jelas bukan binatang. Akan tetapi, mengapa manusia
membutuhkan pendidikan?.
Manusia dan binatang jika dibandingkan
jelas sangat berbeda kelasnya. Namun yang menarik (jika dilihat pada saat
manusia dan binatang
lahir) binatang lebih
unggul dibandingkan manusia. Binatang
secara naluri intuitif sudah mampu mengenal kondisi lingkungannya. Bahkan jika
dipaksakan, binatang
mampu bertahan hidup secara mandiri dengan kapasitas hewaninya. Manusia jelas
(pada posisi ini) ketinggalan sangat jauh. Manusia tidak memiliki kemampuan
yang setara bahkan mendekati kemampuan naluri intuitif yang bersifat alamiah
yang dimiliki oleh binatang.
Manusia pada masa "bayi" membutuhkan sosok manusia dewasanya -entah
orang tua atau siapapun itu- agar eksistensi hidupnya dapat berlangsung. Jelas,
pada posisi ini manusia sangat rendah dibandingkan binatang.
Namun yang membuat manusia
lebih superior dibandingkan binatang
adanya posisi lanjutan setelah melewati fase "lemah" ini. Namun yang
menarik agar manusia dapat "naik pangkat" dari binatang, manusia membutuhkan
pendidikan. Tanpa pendidikan manusia tidak dapat menyamai kemampuan minimal binatang yang bersifat
instingtif naluriah. Melalui pendidikan manusia -meski pendidikan yang paling
rendah sekalipun, misalnya pendidikan dari keluarga primer dalam hal
mengajarkan berbicara, berjalan, dan berlari- dapat memanusiakan dirinya
sehingga dia lebih berharga dibandingkan penghuni eksistensi kehidupan
lainnya.
Jadi, pendidikan adalah pen-DIDI(k)-an. Bagi manusia, pendidikan berfungsi untuk membuat
Didi menjadi manusia yang seutuhnya, bukan manusia-manusiaan.
*Penulis Adalah Mahasiswa Filsafat
Universitas Indonesia Angkatan 2007
Kata “pendidikan” telah demikian jauh dari makna awalnya untuk
mencerdaskan kehidupan manusia atau proses memanusiakan manusia yang
diselenggarakan melalui proses pendidikan. Pergeseran makna yang terjadi pada kata “pendidikan” ini
melampaui bentuknya yang verbal dengan pelbagai cara dan di dalamnya tercakup
hal-hal lain
dalam dunia lisan bukan bahasa dan ini bisa menjadi semainon[1].
Hal ini tak lain disebabkan oleh adanyafaktor-faktor yang terjadi dalam
perkembangan pendidikan itu sendiri sehingga dapat merubah makna pendidikan.
Pendidikan yang terjadi sekarang tak lebih dari pemenuhan atas produk-produk kaum kapitalis
dimana seseorang dipersiapkan demi memenuhi kepentingan mereka para kaum
kapitalis. Salah satu dari perubahan makna tersebut terjadi dengan adanya
komersialisasi pendidikan, pendidikan yang seharusnya menjadi cara atau proses
mencerdaskan atau memanusiakan manusia berubah menjadi pemenuhan kebutuhan
industrialisasi-industrialisasi yang tak lain produk dari para kaum kapitalis.
Komersialisasi dan industrialisasi
pendidikan membuat manusia tak berfikir jauh lagi mengenai apa makna yang
sebenarnya dari pendidikan dan hanya membuat pergesaran makna dari kata
pendidikan. Saat ini orang-orang lebih berfikir bagaimana caranya mengenyam pendidikan dengan
memilih apa yang sedang dibutuhkan dalam dunia industri sekarang. Contohnya
saja realitas ini terdapat pada banyak calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikannya ke
Universitas. Mereka berbondong-bondong akan memilih jurusan-jurusan tertentu yang sedang dibutuhkan oleh dunia
industrialisasi saat ini tanpa berfikir apa sebenarnya yang ingin mereka
pelajari dan dapatkan dari pendidikan tersebut. Ketergantungan-ketergantungan pada
situasi (depend on condition) ini
membuat seseorang semakin jauh dari apa yang mereka ingin dapatkan dan harapkan
terhadap pendidikan itu sendiri. Ketergantungan ini membuat mereka yang
memiliki kemampuan lebih dalam di bidang akademik mau tak mau berubah menjadi
budak-budak
dari kaum kapitalis demi memenuhi kebutuhan industialisasi yang ada, dan hal
ini semakin menguatkan bahwa pendidikan sekarang tak lebih dari budak kapitalisme
(education is slave of capitalism).
Realitas seperti inilah yang terjadi
sekarang di bangsa ini, pendidikan budak dari kapitalisme (education is slave of capitalism) menjadikan hasil yang didapatkan
dari proses pendidikan pun tak lebih dari mereka-mereka yang memiliki moral budak (slave morality) seperti apa yang sering di
dengung-dengungkan
oleh Nietzsche.
www.matanews.com
[1] Bahasa yang mengartikulasikan dirinya
sendiri dalam suatu tata cara yang tidak verbal
*Penulis adalah mahasiswa
Filsafat Universitas Indonesia Angkatan 2009