Home

Minggu, 05 September 2010

Puisi: Absurd


Bukankah kita sama-sama telah terbiasa.
Memandangi putihnya pinggiran malam serta pagi yang pekat ketika matahari mulai dikejar temaram.
Lelah atas jawaban  yang menyapa kita kala masih ada waktu sedikit saja untuk menghabiskan sarapan di meja.
Tiap hari kita dipaksa melihat penuh abu-abu tua benar dan salah yang bergelayut dikepala hingga ke otak.
Banyak hidup dan mati yang teronggok di belakang lemari pakaian kita karena lupa mencucinya ketika hendak terbang ke bawah.
Ah, sudah. saya hanya ingin tidur saat ini.  Menghilangkan dunia sejenak untuk berpikir resah.
Bukankah kita sama-sama telah terbiasa.

Hery Dwi Prasetyo –Filsafat 07-



Aku hanya seorang pandir yang mati setengah*

Aku hanya seorang pandir yang mati setengah....
Aku terdampar di satu galeri. Hanya ada satu lukisan di depan muka, - jarak yang terlalu dekat - , berjudul "WAJAH". Ada-ada saja kupikir, dari sedekat ini yang kulihat hanya torehan cat aneka warna, analogus yang terlalu berantakan, terlalu banyak garis, terlampau sesak bentuk. Terlalu rancu untuk diberi judul "WAJAH", biarlah, itupun hanya 'penamaan' saja. Mungkin pelukisnya seorang surealis.

Sudahlah.

Galeri ini menjemukan sekali. Tapi di luar hujan bagai jeruji, menjebak. Aku lari saja..... Sekelilingku berubah, tanah yang ku injak menjadi lintasan. Namun, hanya aku yang berlari.

Berlari.....
Lintasan tiba-tiba penuh alat kelamin dan kepala-kepala yang tergeletak tak bertubuh. Belum sempat terperangah, kabut menyamarkan semua. Beribu kepala itu tersenyum, mata mereka bolong; aneka kelamin berdiri, membentuk pasukan dengan para kepala buntung. Mengejarku!

Aku terus berlari. Hujan menjarum, menusuk mata, menembus dada. Kurasakan aspal berubah jadi lautan pasir, kakiku basah. Berlari memecah pantai. Mata dan dada ini berdarah. Kurasakan air memenuhi tubuh sampai ubun-ubun.
Aku tenggelam,
belum mati.

Dari jauh aku melihat sebuah benda persegi di ujung sana. Warna air dan merah pekat mengaburkan pandangan. Samar kulihat lukisan "WAJAH" sesaat lalu. Baru kusadari itu memang "WAJAH", dari jarak sejauh ini, di dalam ketenggelaman.....

*Aprilia Ramadhina –Filsafat 07-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik

-Humas Media KOMAFIL FIB UI-