Home

Minggu, 05 September 2010

Sinema : MALENA


Malena
Cast : Monica Belucci, Giuseppe Sulfaro
Director: Giuseppe Tornatore
Oleh : Efriani Effendi*

           Film ini berlatar belakang di Italia yang berada di bawah kekuasan Hitler pada masa Perang Dunia II. Malena Scordia (Monica Belucci) merupakan seorang perempuan cantik yang ditinggal suaminya, Nino Scordia, berperang. Malena dianggap berselingkuh selama suaminya menjalankan tugas. Munculnya kabar angin perselingkuhan Malena
disebabkan karena ia mengunjungi sang ayah yang telah tua.
           Sementara itu, Amaroso Renato (Giuseppe Sulfaro), seorang bocah laki-laki
berumur 12 tahun tidak mempercayai berita tersebut. Ia tahu bahwa Malena merupakan
istri yang setia karena Amaroso memperhatikan kehidupan Malena. Hal ini dilakukannya
semenjak Malena menjadi ‘imajinasi nakalnya’ dengan segala kecantikannya.
Membantu bahkan sampai mengintip Malena dilakukannya atas dasar obsesi liarnya.
Hingga suatu saat Malena mendapat kabar bahwa suaminya tewas di peperangan. Kesedihan melanda Malena tanpa satu orangpun yang peduli, bahkan ayahnya sendiri yang terpengaruh oleh fitnah yang berkembang. Ditambah dengan kesulitan keuangan, Malena tetap berusaha bekerja. Akan tetapi, statusnya sebagai janda mempersulit dirinya. Bahkan perempuan lain menghujatnya sebagai perebut suami orang lain.
           Kelaparan semakin melanda dirinya, segala upaya telah menemui jalan buntu. Akhirnya Malena keluar dari rumahnya dengan menggunakan lipstik merah dan sedikit berdandan. Ia telah melepaskan pakaian berduka, dan berjalan menuju tengah kota. Kemudian ia duduk di sebuah kafe dengan mengeluarkan sebatang rokok, kemudian lelaki di sekitarnya berebut ingin menyalakan korek buat Malena. Dari sinilah Malena benar-benar menjadi seorang pelacur karena masyarakat sendiri yang memaksa ia menjadi pelacur. Ia kemudian melayani tentara Jerman yang menduduki Italia.
          Sampailah masa Hitler dijatuhkan, tentara Jerman pun diusir
dari tanah Italia. Para pelacur diseret keluar dan dianggap lebih rendah
dari binatang karena telah melayani tentara Jerman. Dan perlakuan
yang lebih parah didapatkan oleh Malena. Ia diseret paksa, dilempari
dengan batu, ditelanjangi, hingga rambutnya digunting seenaknya.
Teriakan Malena tidak dihiraukan, para perempuan semakin membabi
buta. Di tengah ketidakberdayaan tersebut ia diusir dari daerah tempat tinggalnya, tanpa apa-apa. Amaroso ingin menolong, tetapi ia tidak
kuasa karena pada masa itu ia hanya seorang bocah. Malena pun pergi dengan keadaan yang menyedihkan. Pada adegan inilah yang membuat saya berdecak kagum dengan ketotalitasan Belucci.
          Tahun pun berganti, dan Nino kembali ke Italia. Ternyata ada kesalahan dalam pemberitaan kematiannya. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati rumahnya ditempati orang lain dan istrinya tidak diketahui kemana. Setiap penduduk yang ditanyai membisu, seakan-akan menyadari kesalahan mereka. Bukannya membantu, mereka malah tetap diam di tengah perasaan bersalah. Amaroso pun menuliskan surat pada Nino dan menceritakan semua yang menimpa Malena semenjak ia pergi. Amaroso menganggap bahwa hanya inilah yang dapat dilakukannya demi perempuan imajinasinya yang difitnah. Akhirnya, Nino membawa Malena kembali ke Italia. Malena berdiri tegap dan melangkah dengan pasti melewati orang-orang yang berbuat tidak adil padanya. Kali ini saya (lagi-lagi) berdecak kagum. Dan tiba-tiba saja orang-orang tersebut menjadi sangat baik seakan-akan menebus kesalahan mereka.
           Film ini merefleksikan bahwa terkadang masyarakat lah yang membentuk kita secara paksa. Ada stereotype salah yang berkembang dimasyarakat. Di sini kita akan melihat ketotalitasan acting Monica Belucci yang terletak pada raut mukanya. Film ini juga sangat menggambarkan bahwa hidup ini ironis dan penderitaan. Tidak banyak dialog yang terlontar dalam film ini, tetapi kalian bisa memahami dengan melihat raut wajah dari pemain.
                Apakah kita masih di dalam little box bentukan masyarakat? 

*Penulis adalah mahasiswa Filsafat angkatan 07

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik

-Humas Media KOMAFIL FIB UI-