Malena
Cast : Monica Belucci,
Giuseppe Sulfaro
Director: Giuseppe
Tornatore
Oleh : Efriani Effendi*
Film
ini berlatar belakang di Italia yang berada di bawah kekuasan Hitler pada masa Perang Dunia II.
Malena Scordia (Monica Belucci) merupakan seorang perempuan cantik yang ditinggal
suaminya, Nino Scordia, berperang. Malena dianggap berselingkuh selama suaminya
menjalankan tugas. Munculnya kabar angin perselingkuhan Malena
disebabkan karena ia
mengunjungi sang ayah yang telah tua.
Sementara itu, Amaroso Renato (Giuseppe
Sulfaro), seorang bocah laki-laki
berumur 12 tahun tidak
mempercayai berita tersebut. Ia tahu bahwa Malena merupakan
istri yang setia karena
Amaroso memperhatikan kehidupan Malena. Hal ini dilakukannya
semenjak Malena menjadi
‘imajinasi nakalnya’ dengan segala kecantikannya.
Membantu bahkan sampai
mengintip Malena dilakukannya atas dasar obsesi liarnya.
Hingga suatu saat Malena
mendapat kabar bahwa suaminya tewas di peperangan. Kesedihan melanda Malena
tanpa satu orangpun yang peduli, bahkan ayahnya sendiri yang terpengaruh oleh
fitnah yang berkembang. Ditambah dengan kesulitan keuangan, Malena tetap
berusaha bekerja. Akan tetapi, statusnya sebagai janda mempersulit dirinya.
Bahkan perempuan lain menghujatnya sebagai perebut suami orang lain.
Kelaparan semakin melanda dirinya,
segala upaya telah menemui jalan buntu. Akhirnya Malena keluar dari rumahnya
dengan menggunakan lipstik merah dan sedikit berdandan. Ia telah melepaskan
pakaian berduka, dan berjalan menuju tengah kota. Kemudian ia duduk di sebuah
kafe dengan mengeluarkan sebatang rokok, kemudian lelaki di sekitarnya berebut
ingin menyalakan korek buat Malena. Dari sinilah Malena benar-benar menjadi
seorang pelacur karena masyarakat sendiri yang memaksa ia menjadi pelacur. Ia
kemudian melayani tentara Jerman yang menduduki Italia.
dari tanah Italia. Para
pelacur diseret keluar dan dianggap lebih rendah
dari binatang karena
telah melayani tentara Jerman. Dan perlakuan
yang lebih parah
didapatkan oleh Malena. Ia diseret paksa, dilempari
dengan batu,
ditelanjangi, hingga rambutnya digunting seenaknya.
Teriakan Malena tidak
dihiraukan, para perempuan semakin membabi
buta. Di tengah
ketidakberdayaan tersebut ia diusir dari daerah tempat tinggalnya, tanpa
apa-apa. Amaroso ingin menolong, tetapi ia tidak
kuasa karena pada masa
itu ia hanya seorang bocah. Malena pun pergi dengan keadaan yang
menyedihkan. Pada adegan inilah yang membuat saya berdecak
kagum dengan ketotalitasan Belucci.
Tahun pun berganti, dan Nino kembali
ke Italia. Ternyata ada kesalahan dalam pemberitaan kematiannya. Betapa
terkejutnya ia ketika mendapati rumahnya ditempati orang lain dan istrinya
tidak diketahui kemana. Setiap penduduk yang ditanyai membisu, seakan-akan
menyadari kesalahan mereka. Bukannya membantu, mereka malah tetap diam di
tengah perasaan bersalah. Amaroso pun menuliskan surat pada Nino dan
menceritakan semua yang menimpa Malena semenjak ia pergi. Amaroso menganggap
bahwa hanya inilah yang dapat dilakukannya demi perempuan imajinasinya yang
difitnah. Akhirnya, Nino membawa Malena kembali ke Italia. Malena berdiri tegap
dan melangkah dengan pasti melewati orang-orang yang berbuat tidak adil
padanya. Kali ini saya (lagi-lagi) berdecak kagum. Dan tiba-tiba saja
orang-orang tersebut menjadi sangat baik seakan-akan menebus kesalahan mereka.
Film ini merefleksikan bahwa
terkadang masyarakat lah yang membentuk kita secara paksa. Ada stereotype salah
yang berkembang dimasyarakat. Di sini kita akan melihat ketotalitasan acting
Monica Belucci yang terletak pada raut mukanya. Film ini juga sangat
menggambarkan bahwa hidup ini ironis dan penderitaan. Tidak banyak dialog yang
terlontar dalam film ini, tetapi kalian bisa memahami dengan melihat raut wajah
dari pemain.
Apakah kita masih di dalam little box bentukan
masyarakat?
*Penulis adalah
mahasiswa Filsafat angkatan 07

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik
-Humas Media KOMAFIL FIB UI-