Home

Minggu, 05 September 2010

Prometheus


(Johan Rady Mahasiswa Filsafat UI)*

Tiada kutahu yang lebih nista
Di bawah matahari selain kalian,
dewa-dewa.
Dengan hina hidupkan
Kepadukaan kalian
Dari kurban persembahan
Dan hembusan doa . . .

Sajak di atas saya ambil dari Goethe, judulnya Prometheus. Seperti yang kita tahu, Prometheus adalah seorang tokoh mitologi Yunani yang dihukum oleh Zeus karena tanpa seizinnya telah menghadiahkan api –sebagai lambang kebudayaan– kepada manusia. Ia dirantai pada sebuah tebing dan seekor burung tiap hari datang memakan jantungnya. Saya tidak tahu kenapa Prometheus begitu mempercayai manusia, makhluk yang bahkan ia bentuk sendiri sesuai citra dirinya dari sebongkah tanah liat.
Kenapa manusia, Prometheus? Kenapa pula kau menentang Zeus? Tak banyak yang bisa saya mengerti, kecuali kenyataan bahwa kau adalah ”kafir” di antara sejenismu. Dengan gagah kau menghina dewa-dewa, sebagaimana dengan tegar kau memerangi para titan. Dalam trilogi drama Aischylos dikisahkan bagaimana engkau bersekutu dengan Zeus memerangi dan mengalahkan para titan. Tapi, katamu: ”Duhai, kalbuku yang membara dan suci, bukankah kau yang membereskannya sendiri?”.
Kalbuku”, kata Prometheus. Kalbu yang sama dengan yang ada dalam diri setiap kita, manusia. Menyesalkah Prometheus? Ketika banyak dari manusia malah dengan bangga berharap-harap, menghembuskan doa, berkurban atau dikurbankan, dan berterima kasih kepada dewa-dewa, menyesalkah dia?
Tidak banyak yang menyadarinya, tetapi Prometheus menciptakan manusia bukan sebagai sebuah perkakas. Seseorang menciptakan perkakas hanya ketika kegunaan dan tujuan akhir perkakas tersebut telah dirumuskan. Gunting, misalnya, diciptakan ketika manusia tahu dan sadar penuh apa kegunaan gunting. Maka gunting tidak akan pernah bisa keluar dari kodrat dan tugasnya sebagai sebuah gunting: memotong kertas.
Dan manusia bukanlah perkakas. Prometheus bahkan tidak pernah tahu akan jadi apa ”hasil karya”-nya. Esensi manusia belum ada ketika Prometheus membentuknya dari tanah liat. Prometheus hanya bisa berangan-angan bahwa manusia bisa segera sadar akan kebebasannya sendiri, lalu melepaskan diri dari belenggu takdir dan kodrat yang ditimpakan oleh para dewa. Kita mendengar doa Prometheus dari sajak Goethe yang indah:
Di sini kududuk, menggubah manusia
Sesuai citraku,
Suatu kaum yang menyerupai aku,
Agar menderita, menangis,
Sukaria, bahagia,
Agar tak menggubrismu,
Sebagaimana aku.
Seberapa banyak dari kita yang sadar, tidak ada bentuk yang pasti perihal apa itu ”manusia”. Kita tidak dilahirkan dari sebuah keinginan dan rumusan mutlak para dewa. Tidak, tidak! Tidak seperti itu. Dengarkan Prometheus sekali lagi dan kita pun tahu: manusia diciptakan hanya dari sebuah harap.

*Penulis adalah mahasiswa Filsafat UI Angkatan 2007
Sumber foto: www.scott-eaton.com ; http://maltesecrossfiredesigns.com 
                  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik

-Humas Media KOMAFIL FIB UI-