(Johan Rady
Mahasiswa Filsafat UI)*
Tiada kutahu yang lebih nista
Di bawah matahari selain kalian,
dewa-dewa.
dewa-dewa.
Dengan hina hidupkan
Kepadukaan kalian
Dari kurban persembahan
Dan hembusan doa . . .
Sajak di atas saya ambil dari Goethe, judulnya Prometheus. Seperti
yang kita tahu, Prometheus adalah seorang tokoh mitologi Yunani yang dihukum
oleh Zeus karena tanpa seizinnya telah menghadiahkan api –sebagai lambang
kebudayaan– kepada manusia. Ia dirantai pada sebuah tebing dan seekor burung
tiap hari datang memakan jantungnya. Saya tidak tahu kenapa Prometheus begitu
mempercayai manusia, makhluk yang bahkan ia bentuk sendiri sesuai citra dirinya
dari sebongkah tanah liat.
Kenapa manusia, Prometheus? Kenapa pula kau menentang Zeus? Tak banyak yang
bisa saya mengerti, kecuali kenyataan bahwa kau adalah ”kafir” di antara
sejenismu. Dengan gagah kau menghina dewa-dewa, sebagaimana dengan tegar kau memerangi
para titan. Dalam trilogi drama Aischylos dikisahkan bagaimana engkau bersekutu
dengan Zeus memerangi dan mengalahkan para titan. Tapi, katamu: ”Duhai,
kalbuku yang membara dan suci, bukankah kau yang membereskannya sendiri?”.
”Kalbuku”, kata Prometheus. Kalbu yang sama dengan yang ada dalam
diri setiap kita, manusia. Menyesalkah Prometheus? Ketika banyak dari manusia
malah dengan bangga berharap-harap, menghembuskan doa, berkurban atau
dikurbankan, dan berterima kasih kepada dewa-dewa, menyesalkah dia?
Tidak banyak yang menyadarinya, tetapi Prometheus menciptakan manusia bukan
sebagai sebuah perkakas. Seseorang
menciptakan perkakas hanya ketika kegunaan dan tujuan akhir perkakas tersebut telah
dirumuskan. Gunting, misalnya, diciptakan ketika manusia tahu dan sadar penuh
apa kegunaan gunting. Maka gunting tidak akan pernah bisa keluar dari kodrat
dan tugasnya sebagai sebuah gunting: memotong kertas.
Dan manusia bukanlah perkakas.
Prometheus bahkan tidak pernah tahu akan jadi apa ”hasil karya”-nya. Esensi
manusia belum ada ketika Prometheus membentuknya dari tanah liat. Prometheus
hanya bisa berangan-angan bahwa manusia bisa segera sadar akan kebebasannya
sendiri, lalu melepaskan diri dari belenggu takdir dan kodrat yang ditimpakan
oleh para dewa. Kita mendengar doa Prometheus dari sajak Goethe yang indah:
Di sini kududuk, menggubah manusia
Sesuai citraku,
Suatu kaum
yang menyerupai aku,
Agar
menderita, menangis,
Sukaria, bahagia,
Agar tak menggubrismu,
Sebagaimana aku.
Seberapa banyak dari kita yang sadar, tidak ada bentuk yang pasti perihal
apa itu ”manusia”. Kita tidak dilahirkan dari sebuah keinginan dan rumusan
mutlak para dewa. Tidak, tidak! Tidak seperti itu. Dengarkan Prometheus sekali
lagi dan kita pun tahu: manusia diciptakan hanya dari sebuah harap.
*Penulis adalah mahasiswa Filsafat
UI Angkatan 2007
Sumber foto: www.scott-eaton.com ; http://maltesecrossfiredesigns.com



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik
-Humas Media KOMAFIL FIB UI-