Profil Embun Kenyowati
A : Tanggapan mengenai Ilmu Pengetahuan dan
Tekhnologi yang dewasa ini semakin
mengalami perkembangan, serta kaitannya dengan keberadaan manusia itu sendiri.
EK :
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi tentu saja diperlukan demi kemajuan
peradaban manusia. Dalam Ilmu Pengetahuan sebenarnya masih bisa ditemukan
kemungkinan/possibility di dalamnya. Demikian juga dengan Tekhnologi yang terus
menerus berkembang. Pada dasarnya semua hal yang ada di dunia ini tentu
memiliki 2 sisi (baik dan buruk, benar dan salah), dan di sinilah peranan
manusia untuk memaknai hal tersebut. Sisi positif dan negatif tentu tidak dapat
dapat dihilangkan begitu saja, begitupun juga dengan yang terjadi pada
IPTEK.Contonya efek negatif IPTEK terhadap alam, yaitu berupa pengrusakkan alam
yang tidak dapat terelakkan lagi. Akan tetapi hal tersebut kembali lagi pada
cara manusia memandang fenomena tersebut.
A : Tanggapan mengenai Paradigma pendidikan yang
seringkali dikaitkan dengan persekolahan atau nilai (grade) dan ranking?
EK : Ada
sebuah istilah mengenai pendidikan, yakni ‘Long life education’. Menunjukkan
bahwa ada hal lain di dalam pendidikan yang tidak hanya sebatas persekolahan
atau nilai grade semata. Bentuk-bentuk formalitas seperti itu tidak dapat dipungkiri
keberadaannya, akan tetapi jangan sampai melunturkan nilai-nilai (values) yang
juga berada dibalik itu. Pembelajaran mengenai kehidupan itu sendiri juga
tentunya berpengaruh untuk dapat meningkatkan kehidupan yang lebih baik.
A : Tokoh yang inspiratif untuk Ibu?
A : Bagaimana awal ketertarikan Ibu terhadap
Seni?
EK : Hmm...
semuanya diawali ketika saya menginjak usia 12 tahun dan sedang menempuh
pendidikan formal sekolah dasar dan pendidikan informal, yakni Pesantren
privat. Ketika itu saya merasa ironi sekali saat menemukan sebuah keadaan bahwa
orang yang mengajari kebaikan itu, ternyata justru ada yang tidak menjalani apa
yang diajarkannya. Inilah yang akhirnya menyebabkan saya mulai memiliki
ketertarikan lain di dunia sastra dan mulai membaca terjemahan karya Anton
Chekov, dalam majalah berbahasa Jawa ‘Panyebar Semangat (PS)’. Semenjak itu
ketertarikan saya di dunia sastra mulai merambah ke dunia puisi, dan kemudian
menginjak ke dunia seni.
Seni itu setara dengan bidang-bidang lainnya,, seperti Ilmu
Pengetahuan, tergantung dari bagaimana
manusia yang menggelutinya. Kalaupun ada pandangan bahwa Seni itu dipandang
sebelah mata, seharusnya ditanamkan terlebih dahulu bahwa apapun ilmunya,
tergantung manusianya bukan dari jenis ilmu yang dipelajari.
A : Mahasiswa Filsafat angkatan 2010 saat ini
berjumlah 40 orang. Mengenai banyaknya anggapan yang berkembang di luar sana
tentang ilmu filsafat dan tidak sedikit diantaranya mengaitkan dengan Atheisme.
Tanggapan Ibu mengenai hal tersebut?
EK :
Sebenarnya itu semua tergantung problem yang dialami. Filsafat itu mengajak
manusia untuk bisa berpikir secara kritis, rasional, sekaligus juga menata
pikiran agar jelas pemilahannya. Beragama urusannya dengan Tuhan, memang ada
ritual serta faktor budaya di dalamnya. Pada akhirnya pengalaman kita sendiri
yang menentukan terhadap kebertuhananmu tersebut.
Sebaiknya memang tidak serta merta menyimpulkan mengenai
Filsafat yang identik dengan atheis. Ketika mengatakan bahwa berfilsafat
mengarah pada atheis, itu juga seharusnya setara dengan ungkapan bahwa filsafat
akan membawa kita ke arah yang sangat religius. Itu baru cara berpikir yang
adil atau setara.
Contoh: kalau semua ini diciptakan Tuhan dan orang berpikir
bahwa Tuhan itu ada yang menciptakan, siapa yang menciptakan yang menciptakan
Tuhan? Ini akan membawa kepada cara berpikir Infinite Regression. Dalam
Filsafat, harus ada titik awal untuk berpikir dan itu adalah sebuah
pengandaian. Matematika saja yang terlihat pasti, itu banyak pengandaiannya
bukan?
A : Pesan kesan setelah mendapatkan award sebagai
dosen wanita inspirasional?
EK : Saya
tidak tahu apa yang menjadikan saya mendapat penghargaan sebagai dosen
inspirasional. Perkiraan saya waktu itu adalah:
A : Pluralisme yang diusung itu seperti apa? Apa
lewat sebuah organisasi atau institusi tertentu?
EK : Oh,
Bukan. Pluralisme yang saya usung itu lewat pendidikan dan seni. Pluralisme
dalam pendidikan, yakni dengan mengungkapkan bahwa pendidikan itu bukan konsep
untuk orang baik-baik saja. Saya Pernah mengajar anak korban narkotika, jadi
kalau cuma yang baik-baik saja semua orang bisa, lantas bagaimana dengan yang
bermasalah?. Itulah yang membuat saya mengutarakan bahwa pendidikan itu bisa
menerima semuanya, bukan hanya yang baik-baik saja (yang normal)
*Embun Kenyowati Ekosiswi dilahirkan di Bojonegoro, 4 Juli
1956, studi pada jurusan Sastra Inggris IKIP Surabaya. Kemudian melanjutkan
studinya di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Filsafat, dan memperoleh gelar
sarjana dengan skripsi berjudul: Pemikiran Susanne K. Langer tentang seni
sebagai simbol Presentasional. Gelar Magister Humaniora pun berhasil ditempuh
pada tahun 1998 dengan thesis berjudul: Subyektifitas dalam Seni pada Pemikiran
Kant, Hegel dan Nietzsche. Gelar Doktor pun akhirnya diraih oleh penulis buku
kumpulan puisi ‘Episode Hitam’ ini pada 1978. Saat ini beliau aktif
mengajar Filsafat di Universitas
Indonesia, khususnya dengan peminatan di bidang Estetika dan Filsafat Seni
*Reporter: Andri
Septian. Annisa
*Fotografer: Annas A.
Azzis
Anak-anak muda itu kini telah menjadi
robot-robot
Diprogram oleh para
orang tua, penguasa dan masyarakatnya
Jangan berkata itulah
arah jaman kita
Kalau kita bisa
bicara tapi tak berbuat apa-apa
Dan ketika
robot-robot itu kelapara
Program pencurian,
pemalakan dan penjarahan yang bekerja
Dan kita tak siap
dengan program penanganannya
2 April 1999
-Embun Kenyowati E.-
(Diambil dari Buku
Kumpulan Puisi Ilusi dan Ilustrasi, karya Alois A. Nugroho dan Embun Kenyowati)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan pesan dan sertakan nama diri, link balik
-Humas Media KOMAFIL FIB UI-